Advertise

Bertaruh Nyawa dengan Rupiah di Balap Liar

Bengkalis Pos
Bengkalis Pos ~ Meski jam dinding telah menunjukkan jelang tengah malam, bukan berarti kehidupan sirna. Raungan keras knalpot sepeda motor, suara riuh rendah dari muda-mudi yang duduk di atasnya, semua menjadi pendanda, justru geliat kehidupan baru di mulai.

Adu balap liar, merupakan fenomena sosial kaum muda di Ibu Kota yang perlu mendapat perhatian khusus. Bukan lantaran kreativitas yang dibuat para remaja ini, melainkan fakta di lapangan yang menunjukan, adu cepat motor rakitan itu justru kerap mengudang pelanggaran hukum.

Mulai dari judi, transaksi narkotika, minuman keras, bahkan tak jarang balap liar di Jakarta memakan korban. Di Jakarta Timur, terdapat sejumlah titik jalan yang kerap dijadikan sirkuit dadakan oleh para jagoan jalanan tersebut.

Di antara nama jalan, seperti Condet, Basuki Rahmat dan lain-lain, terdapat satu jalan yang cukup populer di telinga para penggila balap liar, Jalan Taman Mini.

Joe (bukan nama sebenarnya), salah satu penggila motor menuturkan, jalan yang menghubungkan Perempatan Tamini Square dengan Pintu I Taman Mini Indonesia Indah (TMII) itu mulai dijadikan area balap liar sejak tahun 2004/2005 lalu. Jalan itu dijadikan sirkuit dengan trek lurus oleh pebalap setelah tol JORR, Bekasi, resmi dibuka.

"Dulu di tol mainnya. Tapi karena sudah dibuka, anak-anak pindah ke sini," ujarnya. Jelang tengah malam menjadi waktu yang dipilih para muda-mudi ini untuk mengetes adrenalin di atas motor yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa untuk meraih gengsi memenangkan balapan.

Waktu malam dipilih lantaran jalan sudah steril dari pengendara kendaraan bermotor umumnya. Terlebih, malam hari kerap lepas pantauan Polisi. Mereka pun bebas melajukan motor hingga finish.

Di jalan akses kawasan wisata itu, peserta adu balap liar kebanyakan adalah bengkel-bengkel motor yang ada di sekitar Ciracas, Cipayung dan Bekasi. Setiap bengkel, telah mempersiapkan satu unit motor dan joki andalan untuk adu cepat. Mereka menjadikan jalan sepanjang 1 km itu untuk ajang, motor dari bengkel mana yang tercepat, tanpa mengenakan pengaman apapun.

"Polos saja. Selama ini sepertinya enggak pernah ada joki yang pakai pengaman lengkap, seperti helm, jaket, pelindung lutut. Bahkan sering saya lihat ada yang enggak pakai sendal," ujar Joe.

Joe melanjutkan, layaknya balap liar di wilayah lain, balap liar di Jalan Taman Mini juga memiliki kelas-kelas balapan sendiri. Motor bertransmisi empat tak misalnya, harus dipertandingkan dengan motor jenis yang sama. Demikian juga halnya motor bertansmisi dua tak dan lain-lainya.

Apapun mereka lakukan untuk tidak hanya bisa meraih gengsi memenangkan balapan, tapi juga meraup untung dari aktivitas melanggar hukum tersebut. Ya, sudah menjadi rahasia umum jika dalam setiap putaran balap, ada nilai yang jadi taruhan. Mulai dari satu bungkus rokok, rupiah, hingga pihak pemenang berhak mengambil motor senilai belasan juta rupiah ke pihak yang kalah.

"Biasanya, mulai pertama tengah malam itu cuma sebungkus dua bungkus rokok, sekalian tes jalur motor. Nanti semakin pagi mulai naik taruhannya sampai ngambil motor. Kecuali kalau joki mati karena kecelakaan, ya taruhan bubar," ujarnya.

Polisi ke mana?

Rendy (bukan nama sebenarnya) menuturkan aktivitas lain yang kerap terjadi di arena balap liar, diketahu lebih dari sekedar adu gengsi dan taruhan, melainkan juga transaksi narkotika dan minum-minuman keras. Berbagai aktivitas itu pun seakan menjadi pelengkap kehidupan malam kaum muda yang seakan jauh dari peluit hukum.

"Ya, sekalian beli di sana. Pasti ada yang mabok dan pasti ada yang bawa narkoba. Kan sebelum balapan, minum dulu, make dulu," ujarnya.

Rendy pun berdalih, renggangnya pantauan petugas kepolisian mengakibatkan peserta atau pun penonton adu balap liar itu tampak semaunya melakukan apa pun yang dimau. Layaknya anak muda pada umumnya, jika sudah berkumpul, apa pun bisa dilakukan mereka.

Insiden yang terjadi pada Selasa (19/3/2013) dini hari lalu, seakan menjadi penerang masalah yang selama ini ada. Dua orang remaja joki, Mustofa Awaludin (18) dan Al Apip Sulton (19), warga Bekasi, Jawa Barat, tewas mengenaskan saat tengah adu balap di jalan maut itu. Setelah saling senggol, motor keduanya menabrak separator. Tubuh Awaludin terpelanting menabrak pot jalan hingga pecah, sementara Apip terhempas ke aspal jalanan yang ada di seberangnya.

Usai kejadian, tak ada satu pun kepolisian, baik Unit Kecelakaan Lalu Lintas Sektor Ciracas maupun Wilayah Jakarta Timur, yang bersedia berkomentar atas insiden yang muncul dari balap liar itu. Bahkan untuk merilis nama korban saja polisi enggan atas dasar keluarga korban tak lapor. Padahal, tanpa tindakan tegas, kecelakaan yang sama bisa terulang lagi.
Bengkalis Pos
Bengkalis Pos ~ Meski jam dinding telah menunjukkan jelang tengah malam, bukan berarti kehidupan sirna. Raungan keras knalpot sepeda motor, suara riuh rendah dari muda-mudi yang duduk di atasnya, semua menjadi pendanda, justru geliat kehidupan baru di mulai.

Adu balap liar, merupakan fenomena sosial kaum muda di Ibu Kota yang perlu mendapat perhatian khusus. Bukan lantaran kreativitas yang dibuat para remaja ini, melainkan fakta di lapangan yang menunjukan, adu cepat motor rakitan itu justru kerap mengudang pelanggaran hukum.

Mulai dari judi, transaksi narkotika, minuman keras, bahkan tak jarang balap liar di Jakarta memakan korban. Di Jakarta Timur, terdapat sejumlah titik jalan yang kerap dijadikan sirkuit dadakan oleh para jagoan jalanan tersebut.

Di antara nama jalan, seperti Condet, Basuki Rahmat dan lain-lain, terdapat satu jalan yang cukup populer di telinga para penggila balap liar, Jalan Taman Mini.

Joe (bukan nama sebenarnya), salah satu penggila motor menuturkan, jalan yang menghubungkan Perempatan Tamini Square dengan Pintu I Taman Mini Indonesia Indah (TMII) itu mulai dijadikan area balap liar sejak tahun 2004/2005 lalu. Jalan itu dijadikan sirkuit dengan trek lurus oleh pebalap setelah tol JORR, Bekasi, resmi dibuka.

"Dulu di tol mainnya. Tapi karena sudah dibuka, anak-anak pindah ke sini," ujarnya. Jelang tengah malam menjadi waktu yang dipilih para muda-mudi ini untuk mengetes adrenalin di atas motor yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa untuk meraih gengsi memenangkan balapan.

Waktu malam dipilih lantaran jalan sudah steril dari pengendara kendaraan bermotor umumnya. Terlebih, malam hari kerap lepas pantauan Polisi. Mereka pun bebas melajukan motor hingga finish.

Di jalan akses kawasan wisata itu, peserta adu balap liar kebanyakan adalah bengkel-bengkel motor yang ada di sekitar Ciracas, Cipayung dan Bekasi. Setiap bengkel, telah mempersiapkan satu unit motor dan joki andalan untuk adu cepat. Mereka menjadikan jalan sepanjang 1 km itu untuk ajang, motor dari bengkel mana yang tercepat, tanpa mengenakan pengaman apapun.

"Polos saja. Selama ini sepertinya enggak pernah ada joki yang pakai pengaman lengkap, seperti helm, jaket, pelindung lutut. Bahkan sering saya lihat ada yang enggak pakai sendal," ujar Joe.

Joe melanjutkan, layaknya balap liar di wilayah lain, balap liar di Jalan Taman Mini juga memiliki kelas-kelas balapan sendiri. Motor bertransmisi empat tak misalnya, harus dipertandingkan dengan motor jenis yang sama. Demikian juga halnya motor bertansmisi dua tak dan lain-lainya.

Apapun mereka lakukan untuk tidak hanya bisa meraih gengsi memenangkan balapan, tapi juga meraup untung dari aktivitas melanggar hukum tersebut. Ya, sudah menjadi rahasia umum jika dalam setiap putaran balap, ada nilai yang jadi taruhan. Mulai dari satu bungkus rokok, rupiah, hingga pihak pemenang berhak mengambil motor senilai belasan juta rupiah ke pihak yang kalah.

"Biasanya, mulai pertama tengah malam itu cuma sebungkus dua bungkus rokok, sekalian tes jalur motor. Nanti semakin pagi mulai naik taruhannya sampai ngambil motor. Kecuali kalau joki mati karena kecelakaan, ya taruhan bubar," ujarnya.

Polisi ke mana?

Rendy (bukan nama sebenarnya) menuturkan aktivitas lain yang kerap terjadi di arena balap liar, diketahu lebih dari sekedar adu gengsi dan taruhan, melainkan juga transaksi narkotika dan minum-minuman keras. Berbagai aktivitas itu pun seakan menjadi pelengkap kehidupan malam kaum muda yang seakan jauh dari peluit hukum.

"Ya, sekalian beli di sana. Pasti ada yang mabok dan pasti ada yang bawa narkoba. Kan sebelum balapan, minum dulu, make dulu," ujarnya.

Rendy pun berdalih, renggangnya pantauan petugas kepolisian mengakibatkan peserta atau pun penonton adu balap liar itu tampak semaunya melakukan apa pun yang dimau. Layaknya anak muda pada umumnya, jika sudah berkumpul, apa pun bisa dilakukan mereka.

Insiden yang terjadi pada Selasa (19/3/2013) dini hari lalu, seakan menjadi penerang masalah yang selama ini ada. Dua orang remaja joki, Mustofa Awaludin (18) dan Al Apip Sulton (19), warga Bekasi, Jawa Barat, tewas mengenaskan saat tengah adu balap di jalan maut itu. Setelah saling senggol, motor keduanya menabrak separator. Tubuh Awaludin terpelanting menabrak pot jalan hingga pecah, sementara Apip terhempas ke aspal jalanan yang ada di seberangnya.

Usai kejadian, tak ada satu pun kepolisian, baik Unit Kecelakaan Lalu Lintas Sektor Ciracas maupun Wilayah Jakarta Timur, yang bersedia berkomentar atas insiden yang muncul dari balap liar itu. Bahkan untuk merilis nama korban saja polisi enggan atas dasar keluarga korban tak lapor. Padahal, tanpa tindakan tegas, kecelakaan yang sama bisa terulang lagi.

Bengkalis Pos adalah blog berita kutipan dari berbagai sumber, dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain. Jika ada salah silahkan beri kritikan, Anda juga diperbolehkan untuk berkomentar yang tentunya tidak menyinggung SARA.

Bagaimana Pendapat Anda?
 
Copyright © 2015. Bengkalis Pos - All Rights Reserved | Template By Maskolis | Modifikasi By TutorNesia | Proudly powered by Blogger