Advertise

Djana Partanain, Mempertahankan Melodi Kota Udang

Bengkalis Pos
Bengkalis Pos ~Tak seperti bulan-bulan yang lewat, April ini adalah bulan yang cukup padat bagi kelompok seni tarling ”Candra Kirana” pimpinan Djana Partanain (76). Sedikitnya 10 tanggapan di sejumlah tempat harus diisinya selama April ini. Ia bersyukur bisa membagi rezeki dengan rekan-rekan seniman dalam grup itu.

Rabu (10/4) siang itu, istri Djana, Kartini (70), dan anak bungsunya, Firdaus (40), menyiapkan rumah mereka. Tikar digelar dan aneka hidangan ringan, seperti gorengan dan minuman teh-kopi, diletakkan di meja kayu di salah satu pojok teras.

Djana membantu Firdaus menyiapkan perangkat suara (sound system). Pada usianya yang lanjut, semangat bapak empat anak itu tak luntur. ”Kami rutin latihan setiap Rabu. Sudah mulai banyak tanggapan, kami harus sering latihan supaya anak-anak lebih kompak,” ujar Djana yang menjadikan rumahnya sekaligus sanggar bagi kelompok tarling ini.

Dari arah jalan besar, rumah Mang Djana, panggilannya, agak tersembunyi. Untuk menemukan Gang Melati Nomor 7, di Jalan Kapten Samadikun, Kota Cirebon, orang harus melintasi gang sempit padat penduduk dan beberapa belokan mengecoh. Tak jauh dari tempat tinggalnya, ada selokan terbuka dengan anak-anak kecil bermain di sekitarnya.

Baru setahun ini rumah Mang Djana dibangun ulang. Saat ditemui setahun lalu, rumahnya hampir roboh karena kayu penyangga banyak yang lapuk. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan bantuan Rp 50 juta untuk rehabilitasi sanggar dan pembelian alat kepada seniman tarling ini.

Untuk siapa saja

Setelah diperbaiki, rumahnya menjadi ”sekolah” dan sanggar latihan bagi siapa saja yang ingin belajar tarling. Tak hanya anggota grup, orang lain atau anak sekolah pun dia terima dengan senang hati.

Salim (40), guru kesenian SMA 2 Kota Cirebon, mungkin menjadi guru yang paling rajin menugasi siswanya berlatih tarling. Setiap semester ada satu kelas siswa (sekitar 35 orang) dari sekolahnya yang belajar tarling kepada Djana.

”Kalau Mang Djana sedang banyak kegiatan, siswa saya tugasi datang untuk belajar. Kalau Mang Djana tidak repot, beliau yang kami undang ke sekolah, melatih siswa di kelas,” katanya.

Animo kaum muda belajar tarling, diakui Salim, tak tinggi. Namun, dari sekitar satu kelas yang belajar, ia yakin beberapa siswa berminat mendalami tarling dan Mang Djana siap melatih mereka.

”Siapa pun boleh belajar ke sini. Sayangnya, kalau anak-anak itu sudah bisa bendrong, mereka malah berhenti, tak mau belajar lagi. Padahal, kiser tarling itu masih banyak,” ujar Mang Djana.

Bendrong adalah irama tarling yang dibawakan dengan entakan ritmis, bersemangat, naik-turun secara konsisten dengan maksud mengajak hadirin berkumpul. Dalam masyarakat Indramayu, irama bendrong disebut juga gagalan, yang artinya mulai.

Mang Djana lalu mengenang masa mudanya. Dahulu tarling disebut seni melodi dan digemari kawula muda. Para pemuda ingin bermain gitar agar percaya diri. Seni melodi menjadi kebanggaan karena kaum muda sering diundang menyemarakkan hajatan. Mereka bermain musik tanpa imbalan, semata-mata untuk hiburan.

”Dulu tak dikenal tarling, yang ada seni melodi. Karena Cirebon punya lambang Kota Udang, maka disebut Melodi Kota Udang. Kalau di Indramayu disebut Melodi Kota Ayu,” kata Mang Djana yang belajar gitar lewat pergaulan dengan rekan-rekan yang lebih dulu bisa.

Ia secara tak langsung juga belajar dari Babah Barang, keturunan Tionghoa yang tinggal dekat Keraton Kasepuhan. Dari Babah Barang, kata Mang Djana, Melodi Kota Udang berkembang. Banyak rekannya yang mahir gitar belajar dari Babah Barang.

Pada 1960-an, Mang Djana yang sudah ahli main gitar dijuluki ”Djana Melodi”. Ia berganti-ganti kelompok tarling, tergantung yang memerlukannya. ”Dulu, setiap hari saya main. Pernah saya enam bulan main nonstop.”

Ia juga pernah memimpin kelompok tarling Bhayangkara yang dibina Polres Kota Cirebon. Ia juga aktif dalam kelompok tarling binaan Komando Rayon Militer Gunung Jati, Cirebon. ”Saat aktif di tarling Korem, saya ketemu istri. Kebetulan mertua saya itu TNI yang sering main kendang he-he-he.”

Mengukuhi tradisi

Bagi Mang Djana, tarling adalah bagian hidupnya. Ia tak bosan bermain tarling, sekalipun kebutuhan ekonomi menjepit. ”Saya bekerja apa saja, mulai tukang becak sampai kuli pelabuhan. Apa pun saya lakukan asal bisa memenuhi kebutuhan keluarga.”

Di sela-sela kesibukannya mencari penghidupan bagi keluarga, Mang Djana terus bermain tarling. Nada yang dia mainkan seirama gamelan. Sekalipun teman-teman seperjuangan di tarling banyak bergeser mengikuti dangdut atau irama lain, Djana enggan beranjak.

Putaran nasib dan kebutuhan ekonomi memang membawanya beberapa kali mengiringi dangdut. Meski begitu, hatinya tetap pada tarling.

”Itu budaya kita. Senang enggak senang, ya harus senang. Di seni itu (tarling) banyak pesan kebajikan, sayang kalau hilang. Anak muda harus banyak dikenalkan pada tarling. Seni ini mengajarkan kita berbuat baik kepada sesama, tak membedakan status sosial, orang kaya atau miskin. Semua sama, punya perasaan,” ungkapnya.

Mang Djana tak menolak inovasi pada tarling. Namun, ia berharap inovasi kesenian itu tak mengubah akar tradisi tarling. ”Kita perlu memperindah tarling, bukan mengubahnya sehingga kehilangan jati diri kita sendiri sebagai wong cerbon. Dulu, ada drama yang menjadi tambahan dalam tarling, tidak masalah. Kalau ada yang suka dangdut, juga tak apa-apa, tetapi biarkan juga ada tarling seperti aslinya.”

Di rumah ia banyak meluangkan waktu mengajar cucunya, Muarif (17), sebab pemuda itu tertarik pada tarling. Seperti pekan lalu, Muarif mengiringi Mang Djana memainkan beberapa lagu tarling klasik. Sepanjang latihan, Muarif memperhatikan tangan kakeknya dan nada yang keluar dari gitar. ”Dia satu-satunya cucu saya yang bisa nggitar.”

Grup Mang Djana tak melulu memainkan tembang-tembang pentatonis yang berirama lamban dan pembawaannya acap kali sedih, menyayat hati. Candra Kirana beberapa kali melantunkan lagu-lagu diatonis berbahasa cerbonan yang cukup populer, seperti lagu ”Kota Cirebon” dan ”Sega Jamblang”.

”Saya cuma tak mau tembang-tembang dari gamelan (pentatonis) hilang dari tarling,” ujarnya.

Mang Djana berharap pemerintah menaruh perhatian yang lebih besar pada tarling, terutama regenerasi seni ini. ”Alangkah baiknya kalau pemerintah bersikap seperti dulu, mulai RT, RW, lurah, camat, sampai gubernurnya senang budaya lokal dan mau melestarikannya,” katanya.
Bengkalis Pos
Bengkalis Pos ~Tak seperti bulan-bulan yang lewat, April ini adalah bulan yang cukup padat bagi kelompok seni tarling ”Candra Kirana” pimpinan Djana Partanain (76). Sedikitnya 10 tanggapan di sejumlah tempat harus diisinya selama April ini. Ia bersyukur bisa membagi rezeki dengan rekan-rekan seniman dalam grup itu.

Rabu (10/4) siang itu, istri Djana, Kartini (70), dan anak bungsunya, Firdaus (40), menyiapkan rumah mereka. Tikar digelar dan aneka hidangan ringan, seperti gorengan dan minuman teh-kopi, diletakkan di meja kayu di salah satu pojok teras.

Djana membantu Firdaus menyiapkan perangkat suara (sound system). Pada usianya yang lanjut, semangat bapak empat anak itu tak luntur. ”Kami rutin latihan setiap Rabu. Sudah mulai banyak tanggapan, kami harus sering latihan supaya anak-anak lebih kompak,” ujar Djana yang menjadikan rumahnya sekaligus sanggar bagi kelompok tarling ini.

Dari arah jalan besar, rumah Mang Djana, panggilannya, agak tersembunyi. Untuk menemukan Gang Melati Nomor 7, di Jalan Kapten Samadikun, Kota Cirebon, orang harus melintasi gang sempit padat penduduk dan beberapa belokan mengecoh. Tak jauh dari tempat tinggalnya, ada selokan terbuka dengan anak-anak kecil bermain di sekitarnya.

Baru setahun ini rumah Mang Djana dibangun ulang. Saat ditemui setahun lalu, rumahnya hampir roboh karena kayu penyangga banyak yang lapuk. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan bantuan Rp 50 juta untuk rehabilitasi sanggar dan pembelian alat kepada seniman tarling ini.

Untuk siapa saja

Setelah diperbaiki, rumahnya menjadi ”sekolah” dan sanggar latihan bagi siapa saja yang ingin belajar tarling. Tak hanya anggota grup, orang lain atau anak sekolah pun dia terima dengan senang hati.

Salim (40), guru kesenian SMA 2 Kota Cirebon, mungkin menjadi guru yang paling rajin menugasi siswanya berlatih tarling. Setiap semester ada satu kelas siswa (sekitar 35 orang) dari sekolahnya yang belajar tarling kepada Djana.

”Kalau Mang Djana sedang banyak kegiatan, siswa saya tugasi datang untuk belajar. Kalau Mang Djana tidak repot, beliau yang kami undang ke sekolah, melatih siswa di kelas,” katanya.

Animo kaum muda belajar tarling, diakui Salim, tak tinggi. Namun, dari sekitar satu kelas yang belajar, ia yakin beberapa siswa berminat mendalami tarling dan Mang Djana siap melatih mereka.

”Siapa pun boleh belajar ke sini. Sayangnya, kalau anak-anak itu sudah bisa bendrong, mereka malah berhenti, tak mau belajar lagi. Padahal, kiser tarling itu masih banyak,” ujar Mang Djana.

Bendrong adalah irama tarling yang dibawakan dengan entakan ritmis, bersemangat, naik-turun secara konsisten dengan maksud mengajak hadirin berkumpul. Dalam masyarakat Indramayu, irama bendrong disebut juga gagalan, yang artinya mulai.

Mang Djana lalu mengenang masa mudanya. Dahulu tarling disebut seni melodi dan digemari kawula muda. Para pemuda ingin bermain gitar agar percaya diri. Seni melodi menjadi kebanggaan karena kaum muda sering diundang menyemarakkan hajatan. Mereka bermain musik tanpa imbalan, semata-mata untuk hiburan.

”Dulu tak dikenal tarling, yang ada seni melodi. Karena Cirebon punya lambang Kota Udang, maka disebut Melodi Kota Udang. Kalau di Indramayu disebut Melodi Kota Ayu,” kata Mang Djana yang belajar gitar lewat pergaulan dengan rekan-rekan yang lebih dulu bisa.

Ia secara tak langsung juga belajar dari Babah Barang, keturunan Tionghoa yang tinggal dekat Keraton Kasepuhan. Dari Babah Barang, kata Mang Djana, Melodi Kota Udang berkembang. Banyak rekannya yang mahir gitar belajar dari Babah Barang.

Pada 1960-an, Mang Djana yang sudah ahli main gitar dijuluki ”Djana Melodi”. Ia berganti-ganti kelompok tarling, tergantung yang memerlukannya. ”Dulu, setiap hari saya main. Pernah saya enam bulan main nonstop.”

Ia juga pernah memimpin kelompok tarling Bhayangkara yang dibina Polres Kota Cirebon. Ia juga aktif dalam kelompok tarling binaan Komando Rayon Militer Gunung Jati, Cirebon. ”Saat aktif di tarling Korem, saya ketemu istri. Kebetulan mertua saya itu TNI yang sering main kendang he-he-he.”

Mengukuhi tradisi

Bagi Mang Djana, tarling adalah bagian hidupnya. Ia tak bosan bermain tarling, sekalipun kebutuhan ekonomi menjepit. ”Saya bekerja apa saja, mulai tukang becak sampai kuli pelabuhan. Apa pun saya lakukan asal bisa memenuhi kebutuhan keluarga.”

Di sela-sela kesibukannya mencari penghidupan bagi keluarga, Mang Djana terus bermain tarling. Nada yang dia mainkan seirama gamelan. Sekalipun teman-teman seperjuangan di tarling banyak bergeser mengikuti dangdut atau irama lain, Djana enggan beranjak.

Putaran nasib dan kebutuhan ekonomi memang membawanya beberapa kali mengiringi dangdut. Meski begitu, hatinya tetap pada tarling.

”Itu budaya kita. Senang enggak senang, ya harus senang. Di seni itu (tarling) banyak pesan kebajikan, sayang kalau hilang. Anak muda harus banyak dikenalkan pada tarling. Seni ini mengajarkan kita berbuat baik kepada sesama, tak membedakan status sosial, orang kaya atau miskin. Semua sama, punya perasaan,” ungkapnya.

Mang Djana tak menolak inovasi pada tarling. Namun, ia berharap inovasi kesenian itu tak mengubah akar tradisi tarling. ”Kita perlu memperindah tarling, bukan mengubahnya sehingga kehilangan jati diri kita sendiri sebagai wong cerbon. Dulu, ada drama yang menjadi tambahan dalam tarling, tidak masalah. Kalau ada yang suka dangdut, juga tak apa-apa, tetapi biarkan juga ada tarling seperti aslinya.”

Di rumah ia banyak meluangkan waktu mengajar cucunya, Muarif (17), sebab pemuda itu tertarik pada tarling. Seperti pekan lalu, Muarif mengiringi Mang Djana memainkan beberapa lagu tarling klasik. Sepanjang latihan, Muarif memperhatikan tangan kakeknya dan nada yang keluar dari gitar. ”Dia satu-satunya cucu saya yang bisa nggitar.”

Grup Mang Djana tak melulu memainkan tembang-tembang pentatonis yang berirama lamban dan pembawaannya acap kali sedih, menyayat hati. Candra Kirana beberapa kali melantunkan lagu-lagu diatonis berbahasa cerbonan yang cukup populer, seperti lagu ”Kota Cirebon” dan ”Sega Jamblang”.

”Saya cuma tak mau tembang-tembang dari gamelan (pentatonis) hilang dari tarling,” ujarnya.

Mang Djana berharap pemerintah menaruh perhatian yang lebih besar pada tarling, terutama regenerasi seni ini. ”Alangkah baiknya kalau pemerintah bersikap seperti dulu, mulai RT, RW, lurah, camat, sampai gubernurnya senang budaya lokal dan mau melestarikannya,” katanya.

Bengkalis Pos adalah blog berita kutipan dari berbagai sumber, dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain. Jika ada salah silahkan beri kritikan, Anda juga diperbolehkan untuk berkomentar yang tentunya tidak menyinggung SARA.

Bagaimana Pendapat Anda?
 
Copyright © 2015. Bengkalis Pos - All Rights Reserved | Template By Maskolis | Modifikasi By TutorNesia | Proudly powered by Blogger