Advertise

Lampu Kuning Penerbangan

Bengkalis Pos
Bengkalis Pos ~ Sabtu (13/4/2013) malam, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi Tatang Kurniadi meminta semua pihak untuk tidak mengira-ngira penyebab kecelakaan. Kotak hitam Boeing 737-800 NG bernomor registrasi PK-LKS milik Lion Air yang jatuh di Pantai Segara, Bali, memang telah di tangan KNKT. Karena itu, kita perlu menghormati KNKT.

Kita tak akan membahas soal teknis. Kita tidak membahas mengapa pesawat Lion Air itu jatuh di laut sebelum menyentuh landasan pacu 09 Bandara Ngurah Rai. Kita tidak akan menduga-duga persoalan teknis.

Kita juga tidak perlu mempersoalkan keselamatan lingkungan. Meski demikian, terpikirkan bagaimana jika pesawat itu jatuh di landasan pacu 27 atau sedikit ke timur?
Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-904 rute Bandung-Denpasar masih terendam sebagian dan terbelah dua karena jatuh tidak jauh dari ujung barat landasan pacu Bandara Internasional Ngurah Rai, Badung, Bali, Sabtu (13/4) sekitar pukul 15.10 Wita.
Kita sependapat dengan Capt Imron Siregar, pilot senior yang kini menjabat Direktur Operasional Indonesia AirAsia, ada 1.001 faktor penyebab kecelakaan. Sungguh tepat, ada multifaktor yang dapat mengakibatkan kecelakaan. Jadi, biarkan KNKT bekerja keras.

Akan tetapi, bolehlah kita mengingatkan Lion Air. Hal ini dikarenakan ada beberapa kecelakaan saat lepas landas dan pendaratan. Tahun 2011, bahkan dua hari berturut-turut, Senin (14/2/2011) dan Selasa (15/2/2011), dua Boeing 737-900 ER milik Lion Air tergelincir di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Riau.

Laporan KNKT Nomor 10.11.17.04 atas tergelincirnya Boeing 737-400 milik Lion Air juga merekomendasikan perbaikan pelatihan bagi pilot Lion Air dalam pendaratan. Pada 2 November 2010, pesawat Boeing 737-400 milik Lion Air dengan nomor registrasi PK-LIQ tergelincir di Bandara Supadio, Pontianak. Nah, sejauh mana rekomendasi itu sudah dikerjakan?

Pertanyaan itu diberikan kepada Lion Air karena maskapai ini merupakan penguasa penerbangan domestik dengan penetrasi pasar sekitar 40 persen. Sebagai pemimpin pasar, seharusnya Lion Air menjadi contoh bagi maskapai-maskapai lain.

Apalagi Chief Executive Officer Grup Lion Rusdi Kirana telah mengerek bendera Indonesia di dunia internasional. Kita masih ingat saat media-media dunia memajang foto penandatanganan pembelian 230 pesawat Boeing 737, November 2011, di Bali. Presiden Amerika Serikat Barack Obama tersenyum lebar saat berdiri di belakang Rusdi Kirana dan CEO Boeing Jim Albaugh.

Maret lalu, lagi-lagi Lion Air mencengangkan dunia penerbangan. Di Istana Kepresidenan Perancis, The Elysee Palace, di Paris, disaksikan Presiden Perancis François Hollande, Lion Air membeli 234 pesawat Airbus A320 dan A321.

Tidak sekadar membeli pesawat untuk penerbangan domestik, pada Maret 2013, di bawah bendera Malindo Airlines, Rusdi melayani rute Kuala Lumpur-Kota Kinabalu. Rusdi menantang CEO AirAsia Tony Fernandes di kampung halamannya. Grup Lion Air tak lagi sekadar jago kandang.

Di Canberra, Australia, pada Februari 2013, kepada Kompas lagi-lagi Rusdi mengatakan siap menggempur Australia. ”Kami terbang dengan Batik Air. Diawali Kupang-Darwin, Denpasar-Perth, lalu Denpasar-Adelaide,” ujar Rusdi. Untuk Denpasar-Adelaide, Batik Air akan terbang dengan pesawat setipe dengan Virgin Australia, yakni Boeing 737-800.

Di dalam negeri, dengan Batik Air-nya kita percaya Grup Lion Air segera menantang Garuda Indonesia sebagai satu-satunya maskapai dengan layanan penuh.

Ekspansi Grup Lion Air pun pastinya belum akan berhenti. Setelah menguasai Indonesia serta menyerang Malaysia dan Australia, kemungkinan Thailand, Vietnam, Myanmar, dan mungkin Filipina segera disasar.

Sekali lagi di balik itu semua kita menginginkan pertumbuhan maskapai yang sehat. Pertumbuhan yang tetap memprioritaskan keselamatan.
Bengkalis Pos
Bengkalis Pos ~ Sabtu (13/4/2013) malam, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi Tatang Kurniadi meminta semua pihak untuk tidak mengira-ngira penyebab kecelakaan. Kotak hitam Boeing 737-800 NG bernomor registrasi PK-LKS milik Lion Air yang jatuh di Pantai Segara, Bali, memang telah di tangan KNKT. Karena itu, kita perlu menghormati KNKT.

Kita tak akan membahas soal teknis. Kita tidak membahas mengapa pesawat Lion Air itu jatuh di laut sebelum menyentuh landasan pacu 09 Bandara Ngurah Rai. Kita tidak akan menduga-duga persoalan teknis.

Kita juga tidak perlu mempersoalkan keselamatan lingkungan. Meski demikian, terpikirkan bagaimana jika pesawat itu jatuh di landasan pacu 27 atau sedikit ke timur?
Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-904 rute Bandung-Denpasar masih terendam sebagian dan terbelah dua karena jatuh tidak jauh dari ujung barat landasan pacu Bandara Internasional Ngurah Rai, Badung, Bali, Sabtu (13/4) sekitar pukul 15.10 Wita.
Kita sependapat dengan Capt Imron Siregar, pilot senior yang kini menjabat Direktur Operasional Indonesia AirAsia, ada 1.001 faktor penyebab kecelakaan. Sungguh tepat, ada multifaktor yang dapat mengakibatkan kecelakaan. Jadi, biarkan KNKT bekerja keras.

Akan tetapi, bolehlah kita mengingatkan Lion Air. Hal ini dikarenakan ada beberapa kecelakaan saat lepas landas dan pendaratan. Tahun 2011, bahkan dua hari berturut-turut, Senin (14/2/2011) dan Selasa (15/2/2011), dua Boeing 737-900 ER milik Lion Air tergelincir di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Riau.

Laporan KNKT Nomor 10.11.17.04 atas tergelincirnya Boeing 737-400 milik Lion Air juga merekomendasikan perbaikan pelatihan bagi pilot Lion Air dalam pendaratan. Pada 2 November 2010, pesawat Boeing 737-400 milik Lion Air dengan nomor registrasi PK-LIQ tergelincir di Bandara Supadio, Pontianak. Nah, sejauh mana rekomendasi itu sudah dikerjakan?

Pertanyaan itu diberikan kepada Lion Air karena maskapai ini merupakan penguasa penerbangan domestik dengan penetrasi pasar sekitar 40 persen. Sebagai pemimpin pasar, seharusnya Lion Air menjadi contoh bagi maskapai-maskapai lain.

Apalagi Chief Executive Officer Grup Lion Rusdi Kirana telah mengerek bendera Indonesia di dunia internasional. Kita masih ingat saat media-media dunia memajang foto penandatanganan pembelian 230 pesawat Boeing 737, November 2011, di Bali. Presiden Amerika Serikat Barack Obama tersenyum lebar saat berdiri di belakang Rusdi Kirana dan CEO Boeing Jim Albaugh.

Maret lalu, lagi-lagi Lion Air mencengangkan dunia penerbangan. Di Istana Kepresidenan Perancis, The Elysee Palace, di Paris, disaksikan Presiden Perancis François Hollande, Lion Air membeli 234 pesawat Airbus A320 dan A321.

Tidak sekadar membeli pesawat untuk penerbangan domestik, pada Maret 2013, di bawah bendera Malindo Airlines, Rusdi melayani rute Kuala Lumpur-Kota Kinabalu. Rusdi menantang CEO AirAsia Tony Fernandes di kampung halamannya. Grup Lion Air tak lagi sekadar jago kandang.

Di Canberra, Australia, pada Februari 2013, kepada Kompas lagi-lagi Rusdi mengatakan siap menggempur Australia. ”Kami terbang dengan Batik Air. Diawali Kupang-Darwin, Denpasar-Perth, lalu Denpasar-Adelaide,” ujar Rusdi. Untuk Denpasar-Adelaide, Batik Air akan terbang dengan pesawat setipe dengan Virgin Australia, yakni Boeing 737-800.

Di dalam negeri, dengan Batik Air-nya kita percaya Grup Lion Air segera menantang Garuda Indonesia sebagai satu-satunya maskapai dengan layanan penuh.

Ekspansi Grup Lion Air pun pastinya belum akan berhenti. Setelah menguasai Indonesia serta menyerang Malaysia dan Australia, kemungkinan Thailand, Vietnam, Myanmar, dan mungkin Filipina segera disasar.

Sekali lagi di balik itu semua kita menginginkan pertumbuhan maskapai yang sehat. Pertumbuhan yang tetap memprioritaskan keselamatan.

Bengkalis Pos adalah blog berita kutipan dari berbagai sumber, dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain. Jika ada salah silahkan beri kritikan, Anda juga diperbolehkan untuk berkomentar yang tentunya tidak menyinggung SARA.

Bagaimana Pendapat Anda?
 
Copyright © 2015. Bengkalis Pos - All Rights Reserved | Template By Maskolis | Modifikasi By TutorNesia | Proudly powered by Blogger