Advertise

Mereka Harus Naik Perahu dan Jalan Kaki ke Lokasi UN

Bengkalis Pos
Bengkalis Pos ~ Warga Desa Pendreh, Kecamatan Teweh Tengah, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, meminta daerahnya memiliki sekolah menengah pertama (SMP) negeri. Selama ini, pelajar SMP yang hendak mengikuti ujian nasional (UN), ujian akhir sekolah, dan ujian praktik, harus menyusuri Sungai Barito terlebih dulu.

Kepala Desa Pendreh, Ating Jerman, Rabu (24/4/2013), mengatakan, di desanya terdapat SMP PGRI Pendreh. Jika belajar, murid-murid masih melakukannya di sekolah itu, tetapi setiap ujian mereka harus pergi ke SMP Negeri 4 Muara Teweh di Desa Lemo II, Teweh Tengah.

"Anak-anak kami harus menumpang kelotok dengan sungai yang pasang-surut. Belum ada musibah tapi kami sangat khawatir kalau perahu sampai terbalik," tuturnya.

Karena itu, SMP negeri diharapkan dapat dibangun di Pendreh. Pilihan lain yakni menjadikan SMP PGRI Pendreh sebagai sekolah negeri.

Sifa Amelia (15), siswi SMP PGRI Pendreh, mengatakan, perjalanan dari Pendreh menuju Lemo II ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit.

"Takut kalau ada gelombang besar, perahu bergoyang-goyang. Para penumpang kelotok terutama siswi-siswi pasti menjerit jika perahu oleng," tuturnya.

Setelah sampai di Lemo II pun, peserta ujian masih harus berjalan kaki sekitar satu kilometer (km), termasuk menembus hutan.

Menurut Sifa, banyak teman-temannya yang mengikuti UN SMP kali ini tidak bisa berenang. Rasa cemas mereka bertambah ketika hujan turun.
Bengkalis Pos
Bengkalis Pos ~ Warga Desa Pendreh, Kecamatan Teweh Tengah, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, meminta daerahnya memiliki sekolah menengah pertama (SMP) negeri. Selama ini, pelajar SMP yang hendak mengikuti ujian nasional (UN), ujian akhir sekolah, dan ujian praktik, harus menyusuri Sungai Barito terlebih dulu.

Kepala Desa Pendreh, Ating Jerman, Rabu (24/4/2013), mengatakan, di desanya terdapat SMP PGRI Pendreh. Jika belajar, murid-murid masih melakukannya di sekolah itu, tetapi setiap ujian mereka harus pergi ke SMP Negeri 4 Muara Teweh di Desa Lemo II, Teweh Tengah.

"Anak-anak kami harus menumpang kelotok dengan sungai yang pasang-surut. Belum ada musibah tapi kami sangat khawatir kalau perahu sampai terbalik," tuturnya.

Karena itu, SMP negeri diharapkan dapat dibangun di Pendreh. Pilihan lain yakni menjadikan SMP PGRI Pendreh sebagai sekolah negeri.

Sifa Amelia (15), siswi SMP PGRI Pendreh, mengatakan, perjalanan dari Pendreh menuju Lemo II ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit.

"Takut kalau ada gelombang besar, perahu bergoyang-goyang. Para penumpang kelotok terutama siswi-siswi pasti menjerit jika perahu oleng," tuturnya.

Setelah sampai di Lemo II pun, peserta ujian masih harus berjalan kaki sekitar satu kilometer (km), termasuk menembus hutan.

Menurut Sifa, banyak teman-temannya yang mengikuti UN SMP kali ini tidak bisa berenang. Rasa cemas mereka bertambah ketika hujan turun.

Bengkalis Pos adalah blog berita kutipan dari berbagai sumber, dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain. Jika ada salah silahkan beri kritikan, Anda juga diperbolehkan untuk berkomentar yang tentunya tidak menyinggung SARA.

Bagaimana Pendapat Anda?
 
Copyright © 2015. Bengkalis Pos - All Rights Reserved | Template By Maskolis | Modifikasi By TutorNesia | Proudly powered by Blogger