Advertise

Nelayan Bintan Sering Diperas Oknum Aparat

Bengkalis Pos
Bengkalis Pos ~ Sejumlah nelayan asal Kelurahan Kijang Kota, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, mengaku sering diperas oleh oknum aparat saat menangkap ikan di perairan daerah itu.

"Kami terpaksa memberinya, karena mendapat ancaman," kata Abdul Manaf, dari kelompok Nelayan Kijang Kota Raja, pada dialog Peringatan Hari Nelayan Indonesia yang digelar Komunitas Bakti Bangsa dan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Bintan, Jumat (26/4/2013).

Pada dialog bertema "Peningkatan Peran Nelayan Dalam Rangka Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir dan Menjaga Kedaulatan NKRI di Perairan Bintan", Manaf mengaku, baru dua hari lalu dia diperas oleh beberapa oknum aparat yang sedang patroli. Padahal dia mengantongi surat izin berlayar dan melakukan penangkapan ikan di wilayah perairan Bintan.

Oknum aparat itu menolak saat uang yang diberikan hanya Rp 50.000 per orang. "Mereka menuntut pemberian uang yang lebih besar. Sementara kami bukan orang kaya yang bisa memberikan uang dalam jumlah banyak," ujarnya, di hadapan puluhan nelayan Bintan Timur dan mahasiswa.

Manaf beserta rekan-rekannya yang menggunakan kapal ikan, terpaksa memberikan uang dengan nilai sesuai keinginan oknum aparat tersebut. Karena nelayan merasa khawatir disalahkan jika tidak memberikan uang sesuai keinginan mereka. "Kami khawatir mereka mencari-cari kesalahan," katanya.

Hal yang sama juga dirasakan Aleks dan Harsim, nelayan Kijang Kota. Mereka mengaku beberapa kali ditangkap oleh aparat yang sedang patroli. Penangkapan dilakukan di perairan Bintan pada saat nelayan menangkap ikan.

"Kami sudah memiliki surat lengkap untuk berlayar dan menangkap ikan, tetapi masih saja disalahkan. Kapal kami dibawa ke tepi, kemudian diwajibkan untuk membayar puluhan juta," ujar Aleks.

Aleks menyatakan nelayan kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah maupun aparat yang berwenang. Nelayan merasa tidak aman saat melaut. "Kami tidak tahu lagi harus mengadu kepada siapa. Dengan adanya dialog yang digelar Komunitas Bakti Bangsa ini, kami bisa menyampaikan aspirasi," ungkapnya.

Mendengar keluhan nelayan itu, Yudi Carsana, anggota DPRD Kepulauan Riau, yang menjadi salah seorang narasumber dalam dialog tersebut merasa terkejut. Ia akan menindaklanjuti permasalahan itu, dan meminta klarifikasi dari satuan tempat oknum aparat yang diduga melakukan pemerasan.

"Kami akan menindaklanjuti permasalahan ini. Kami berharap kejadian ini tidak terulang lagi," katanya.

Sementara Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Kepulauan Riau, Edi Wan, mengatakan, intimidasi terhadap nelayan sudah sering terjadi. Hal itu seharusnya tidak terjadi jika seluruh aparat yang berwenang melaksanakan tugasnya dengan benar.

"Kami minta nelayan melaporkan setiap persoalan kepada pemerintah, jangan didiamkan. Pemerintah akan melakukan berbagai cara untuk melindungi nelayan," katanya.

Sumber: ANTARA
Bengkalis Pos
Bengkalis Pos ~ Sejumlah nelayan asal Kelurahan Kijang Kota, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, mengaku sering diperas oleh oknum aparat saat menangkap ikan di perairan daerah itu.

"Kami terpaksa memberinya, karena mendapat ancaman," kata Abdul Manaf, dari kelompok Nelayan Kijang Kota Raja, pada dialog Peringatan Hari Nelayan Indonesia yang digelar Komunitas Bakti Bangsa dan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Bintan, Jumat (26/4/2013).

Pada dialog bertema "Peningkatan Peran Nelayan Dalam Rangka Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir dan Menjaga Kedaulatan NKRI di Perairan Bintan", Manaf mengaku, baru dua hari lalu dia diperas oleh beberapa oknum aparat yang sedang patroli. Padahal dia mengantongi surat izin berlayar dan melakukan penangkapan ikan di wilayah perairan Bintan.

Oknum aparat itu menolak saat uang yang diberikan hanya Rp 50.000 per orang. "Mereka menuntut pemberian uang yang lebih besar. Sementara kami bukan orang kaya yang bisa memberikan uang dalam jumlah banyak," ujarnya, di hadapan puluhan nelayan Bintan Timur dan mahasiswa.

Manaf beserta rekan-rekannya yang menggunakan kapal ikan, terpaksa memberikan uang dengan nilai sesuai keinginan oknum aparat tersebut. Karena nelayan merasa khawatir disalahkan jika tidak memberikan uang sesuai keinginan mereka. "Kami khawatir mereka mencari-cari kesalahan," katanya.

Hal yang sama juga dirasakan Aleks dan Harsim, nelayan Kijang Kota. Mereka mengaku beberapa kali ditangkap oleh aparat yang sedang patroli. Penangkapan dilakukan di perairan Bintan pada saat nelayan menangkap ikan.

"Kami sudah memiliki surat lengkap untuk berlayar dan menangkap ikan, tetapi masih saja disalahkan. Kapal kami dibawa ke tepi, kemudian diwajibkan untuk membayar puluhan juta," ujar Aleks.

Aleks menyatakan nelayan kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah maupun aparat yang berwenang. Nelayan merasa tidak aman saat melaut. "Kami tidak tahu lagi harus mengadu kepada siapa. Dengan adanya dialog yang digelar Komunitas Bakti Bangsa ini, kami bisa menyampaikan aspirasi," ungkapnya.

Mendengar keluhan nelayan itu, Yudi Carsana, anggota DPRD Kepulauan Riau, yang menjadi salah seorang narasumber dalam dialog tersebut merasa terkejut. Ia akan menindaklanjuti permasalahan itu, dan meminta klarifikasi dari satuan tempat oknum aparat yang diduga melakukan pemerasan.

"Kami akan menindaklanjuti permasalahan ini. Kami berharap kejadian ini tidak terulang lagi," katanya.

Sementara Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Kepulauan Riau, Edi Wan, mengatakan, intimidasi terhadap nelayan sudah sering terjadi. Hal itu seharusnya tidak terjadi jika seluruh aparat yang berwenang melaksanakan tugasnya dengan benar.

"Kami minta nelayan melaporkan setiap persoalan kepada pemerintah, jangan didiamkan. Pemerintah akan melakukan berbagai cara untuk melindungi nelayan," katanya.

Sumber: ANTARA

Bengkalis Pos adalah blog berita kutipan dari berbagai sumber, dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain. Jika ada salah silahkan beri kritikan, Anda juga diperbolehkan untuk berkomentar yang tentunya tidak menyinggung SARA.

Bagaimana Pendapat Anda?
 
Copyright © 2015. Bengkalis Pos - All Rights Reserved | Template By Maskolis | Modifikasi By TutorNesia | Proudly powered by Blogger