Advertise

Perjuangan Suharti, dari Pijat Tunanetra hingga Jual Kerupuk

Bengkalis Pos
Bengkalis Pos ~ Kondisi fisik Suharti (47) yang terbatas tak membuatnya bermalas-malasan untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Bersama suaminya, yang juga sama-sama tunanetra, Suharti berjuang melawan kondisi itu demi mencari uang dan menyekolahkan anak-anaknya.

Sudah tiga tahun terakhir, Suharti berjualan kerupuk ikan di pinggir Jalan Raya Puri Indah, Kembangan, Jakarta Barat. Dengan bermodal puluhan kantong kerupuk yang diikat pada sebuah kayu serta tongkat untuk menuntunnya jalan, Suharti berdiri menunggu kedatangan para pembeli. Berteman peluh dan debu serta asap knalpot kendaraan, Suharti duduk di pinggir jalan. Kaus putih tipis bertulisan "I love Bali" pun terlihat sudah mulai kusam.
Suharti (47) penyandang tuna netra yang berjualan kerupuk di pinggir Jalan Raya Puri Indah, Kembangan, Jakarta Barat, Rabu (24/4/2013). Dia berjualan mulai dari pukul 14:30 - 21:00 WIB.
Terik matahari maupun hujan rintik tak membuat Suharti bergeser dari lokasi berjualan. Dia ingin mendapatkan sedikit tambahan uang belanja untuk membayar uang kontrakan maupun kebutuhan sehari-harinya. Suharti menuturkan, sebelum berjualan kerupuk, dia sempat membuka jasa pijat tunanetra bersama beberapa temannya yang bernasib sama dengan dia. Namun, seiring berjalannya waktu, jasa tersebut banyak dilakukan oleh orang-orang yang bisa melihat secara normal. Belum lagi panti pijat "plus-plus" juga semakin ramai di Jakarta.

Oleh karena itu, jasanya sebagai tukang pijat tunanetra sudah tak banyak di lirik lagi. "Tadinya saya tukang pijat. Tapi karena sudah banyak yang buka jasa pijat, jadi pelanggannya semakin sedikit," kata Suharti saat ditemui Kompas.com di Kembangan, Rabu (24/4/2013).

Karena sepi peminat, koordinator jasa pijat tunanetra memberikan solusi lain supaya Suharti bisa mendapatkan nafkah lagi. Koordinator tersebut mengajak ibu dari 4 orang anak ini untuk berjualan kerupuk ikan di pinggir jalan. Fasilitas yang diberikan adalah antar-jemput ke tempat dia biasa berdiri dan memberi pasokan kerupuk.

Biasanya koordinator tersebut menjemput istri dari Bambang Sujari ini sekitar pukul 14.30 WIB dari rumahnya di Kampung Bugis, Kembangan, Jakarta Barat. Saat pulang, mereka dijemput kembali dari lokasi berjualan pada pukul 20.00-21.00 WIB.

Selain Suharti, terdapat puluhan orang lain yang memiliki keterbatasan serupa dan turut berjualan di pinggir jalan. Mereka pun memiliki koordinator yang sama untuk menjual kerupuk ikan di sepanjang jalan daerah Kembangan.

"Jadi koordinatornya itu, orang yang tempat kita beli kerupuk. Setiap beli kerupuk ke orang itu," kata Suharti.

Kerupuk yang dijual Suharti seharga Rp 6.000 per bungkus. Kerupuk tersebut dia ambil dari pabrik di dekat Wisma Relasi, Jakarta Barat. Harga modal kerupuk tersebut Rp 4.000 WIB per bungkus. Setiap hari Suharti dapat membawa pulang uang sekitar Rp 75.000-Rp 125.000.

"Tapi kadang ya sedikit juga yang beli. Kayak hari ini, baru 4 bungkus yang terjual, padahal sudah sore begini," ujarnya.

Suharti mengalami kebutaan bukan karena cacat sejak lahir. Saat berusia 7 tahun, ia mengalami demam tinggi. Orantuanya membawanya ke rumah sakit dan mendapatkan pengobatan. Setelah berobat, panas tubuhnya semakin tinggi karena diduga mengalami overdosis obat. Akibatnya, bola mata Suharti tak kuat menahan dosis obat, sehingga dia tak bisa melihat kembali.

Walaupun begitu, Suharti merasa bersyukur karena bisa menyekolahkan 3 anaknya saat ini. Ketiga anaknya masih sekolah tingkat menengah atas di tiga sekolah berbeda. Keputusannya untuk berjualan kerupuk dia ambil supaya bisa membantu pendapatan suami yang hanya bekerja sebagai tukang pijat tunanetra. "Yang penting pekerjaan saya halal dan enggak minta-minta ke orang," katanya.

Sumber: Kompas
Bengkalis Pos
Bengkalis Pos ~ Kondisi fisik Suharti (47) yang terbatas tak membuatnya bermalas-malasan untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Bersama suaminya, yang juga sama-sama tunanetra, Suharti berjuang melawan kondisi itu demi mencari uang dan menyekolahkan anak-anaknya.

Sudah tiga tahun terakhir, Suharti berjualan kerupuk ikan di pinggir Jalan Raya Puri Indah, Kembangan, Jakarta Barat. Dengan bermodal puluhan kantong kerupuk yang diikat pada sebuah kayu serta tongkat untuk menuntunnya jalan, Suharti berdiri menunggu kedatangan para pembeli. Berteman peluh dan debu serta asap knalpot kendaraan, Suharti duduk di pinggir jalan. Kaus putih tipis bertulisan "I love Bali" pun terlihat sudah mulai kusam.
Suharti (47) penyandang tuna netra yang berjualan kerupuk di pinggir Jalan Raya Puri Indah, Kembangan, Jakarta Barat, Rabu (24/4/2013). Dia berjualan mulai dari pukul 14:30 - 21:00 WIB.
Terik matahari maupun hujan rintik tak membuat Suharti bergeser dari lokasi berjualan. Dia ingin mendapatkan sedikit tambahan uang belanja untuk membayar uang kontrakan maupun kebutuhan sehari-harinya. Suharti menuturkan, sebelum berjualan kerupuk, dia sempat membuka jasa pijat tunanetra bersama beberapa temannya yang bernasib sama dengan dia. Namun, seiring berjalannya waktu, jasa tersebut banyak dilakukan oleh orang-orang yang bisa melihat secara normal. Belum lagi panti pijat "plus-plus" juga semakin ramai di Jakarta.

Oleh karena itu, jasanya sebagai tukang pijat tunanetra sudah tak banyak di lirik lagi. "Tadinya saya tukang pijat. Tapi karena sudah banyak yang buka jasa pijat, jadi pelanggannya semakin sedikit," kata Suharti saat ditemui Kompas.com di Kembangan, Rabu (24/4/2013).

Karena sepi peminat, koordinator jasa pijat tunanetra memberikan solusi lain supaya Suharti bisa mendapatkan nafkah lagi. Koordinator tersebut mengajak ibu dari 4 orang anak ini untuk berjualan kerupuk ikan di pinggir jalan. Fasilitas yang diberikan adalah antar-jemput ke tempat dia biasa berdiri dan memberi pasokan kerupuk.

Biasanya koordinator tersebut menjemput istri dari Bambang Sujari ini sekitar pukul 14.30 WIB dari rumahnya di Kampung Bugis, Kembangan, Jakarta Barat. Saat pulang, mereka dijemput kembali dari lokasi berjualan pada pukul 20.00-21.00 WIB.

Selain Suharti, terdapat puluhan orang lain yang memiliki keterbatasan serupa dan turut berjualan di pinggir jalan. Mereka pun memiliki koordinator yang sama untuk menjual kerupuk ikan di sepanjang jalan daerah Kembangan.

"Jadi koordinatornya itu, orang yang tempat kita beli kerupuk. Setiap beli kerupuk ke orang itu," kata Suharti.

Kerupuk yang dijual Suharti seharga Rp 6.000 per bungkus. Kerupuk tersebut dia ambil dari pabrik di dekat Wisma Relasi, Jakarta Barat. Harga modal kerupuk tersebut Rp 4.000 WIB per bungkus. Setiap hari Suharti dapat membawa pulang uang sekitar Rp 75.000-Rp 125.000.

"Tapi kadang ya sedikit juga yang beli. Kayak hari ini, baru 4 bungkus yang terjual, padahal sudah sore begini," ujarnya.

Suharti mengalami kebutaan bukan karena cacat sejak lahir. Saat berusia 7 tahun, ia mengalami demam tinggi. Orantuanya membawanya ke rumah sakit dan mendapatkan pengobatan. Setelah berobat, panas tubuhnya semakin tinggi karena diduga mengalami overdosis obat. Akibatnya, bola mata Suharti tak kuat menahan dosis obat, sehingga dia tak bisa melihat kembali.

Walaupun begitu, Suharti merasa bersyukur karena bisa menyekolahkan 3 anaknya saat ini. Ketiga anaknya masih sekolah tingkat menengah atas di tiga sekolah berbeda. Keputusannya untuk berjualan kerupuk dia ambil supaya bisa membantu pendapatan suami yang hanya bekerja sebagai tukang pijat tunanetra. "Yang penting pekerjaan saya halal dan enggak minta-minta ke orang," katanya.

Sumber: Kompas

Bengkalis Pos adalah blog berita kutipan dari berbagai sumber, dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain. Jika ada salah silahkan beri kritikan, Anda juga diperbolehkan untuk berkomentar yang tentunya tidak menyinggung SARA.

Bagaimana Pendapat Anda?
 
Copyright © 2015. Bengkalis Pos - All Rights Reserved | Template By Maskolis | Modifikasi By TutorNesia | Proudly powered by Blogger