Advertise

Saudi Sediakan Penjara Mewah untuk Napi Al Qaeda

Bengkalis Pos
Bengkalis Pos ~ Para teroris yang tertangkap di Arab Saudi menikmati tempat "rehabilitasi mewah". Negara kaya minyak yang konservatif itu berharap dapat menuntun para militan Al Qaeda yang dipenjara di situ untuk bisa menjauh dari ekstremisme agama. Caranya, mereka diberi bimbingan, perawatan spa, dan fasilitas olahraga di sebuah pusat rehabilitasi mewah di Riyadh. Demikian lapor sejumlah kantor berita di negara itu seperti dikutip MailOnline, Sabtu lalu.

Pada fasilitas-fasilitas mewah itu, yang tidak disebutkan anggaran pengadaannya, juga terdapat kolam renang ukuran olimpiade, sebuah tempat sauna, gym, dan ruang televisi.
Sejumlah perwakilan media diberi kesempatan berkeliling sebuah pusat rehabilitasi yang khusus untuk para narapidana teroris di Riyadh, Saudi.
Narapidana yang memperlihatkan perilaku baik dapat menikmati istirahat dua hari bersama istri mereka di kamar khusus yang merupakan bagian dari kompleks tersebut.

Program itu akan menampung sekitar 3.000 napi di lima pusat rehabilitasi di kerajaan itu. Namun, itu merupakan fasilitas baru di Riyadh. Fasilitas bercita rasa mewah itu diberikan kepada para napi sebagai insentif untuk melunakkan keyakinan mereka. Semua pusat rehabilitasi menyandang nama menteri dalam negeri saat ini, yang memimpin tindakan tegas pemerintah terhadap Al Qaeda di Arab Saudi menyusul serangan mematikan kelompok itu tahun 2003 hingga 2006 yang menewaskan lebih dari 150 orang Saudi dan warga asing.

Selama pemberantasan itu, banyak militan melarikan diri ke selatan, ke Yaman selatan, yang tanpa hukum dan wilayah tenggara di mana jaringan itu membentuk "Al Qaeda di Semenanjung Arab" pada Januari 2009. AS menggolongkan Al Qaeda di Semenanjung Arab sebagai cabang kelompok itu yang paling aktif dan mematikan.

Fasilitas mewah di Riyadh mencakup wilayah setara dengan sekitar 10 lapangan sepak bola dan dirancang untuk menampung 228 napi dari kelompok yang menyimpang itu, istilah yang digunakan Pemerintah Arab Saudi untuk merujuk kepada Al Qaeda.

Masing-masing 12 bangunan di fasilitas unggulan itu menampung 19 napi, yang akan memiliki akses ke suite khusus, di mana mereka dapat menghabiskan waktu bersama anggota keluarga yang berkunjung.

Pada siang hari, para napi akan menghadiri seminar tentang masalah agama. Seminar itu bertujuan mengajari mereka prihal kesesatan pemikiran mereka tentang jihad. "Dalam rangka memerangi terorisme, kita harus memberi mereka keseimbangan intelektual dan psikologis melalui dialog dan persuasi," kata direktur pusat rehabilitasi itu, Said al-Bishi.

Dia mengatakan, sebanyak 2.336 tahanan Al Qaeda kini telah menjalani skema rehabilitasi itu. Namun, tidak semua napi Al Qaeda yang menjalani program itu menjadi "berubah" karena rehabilitasi mereka. Bahkan, direktur pusat rehabilitasi itu mengakui dalam sebuah wawancara dengan para wartawan bahwa sekitar 10 persen dari mereka yang menjalani program itu kembali ke sel teroris mereka.

Para kritikus berpendapat bahwa pelajaran agama yang diberikan kepada narapidana itu justru tidak cukup moderat dan terlalu dekat dengan banyak interpretasi kelompok itu tentang Al Quran dan terlalu dekat dengan pandangan yang dianut Al Qaeda.
Bengkalis Pos
Bengkalis Pos ~ Para teroris yang tertangkap di Arab Saudi menikmati tempat "rehabilitasi mewah". Negara kaya minyak yang konservatif itu berharap dapat menuntun para militan Al Qaeda yang dipenjara di situ untuk bisa menjauh dari ekstremisme agama. Caranya, mereka diberi bimbingan, perawatan spa, dan fasilitas olahraga di sebuah pusat rehabilitasi mewah di Riyadh. Demikian lapor sejumlah kantor berita di negara itu seperti dikutip MailOnline, Sabtu lalu.

Pada fasilitas-fasilitas mewah itu, yang tidak disebutkan anggaran pengadaannya, juga terdapat kolam renang ukuran olimpiade, sebuah tempat sauna, gym, dan ruang televisi.
Sejumlah perwakilan media diberi kesempatan berkeliling sebuah pusat rehabilitasi yang khusus untuk para narapidana teroris di Riyadh, Saudi.
Narapidana yang memperlihatkan perilaku baik dapat menikmati istirahat dua hari bersama istri mereka di kamar khusus yang merupakan bagian dari kompleks tersebut.

Program itu akan menampung sekitar 3.000 napi di lima pusat rehabilitasi di kerajaan itu. Namun, itu merupakan fasilitas baru di Riyadh. Fasilitas bercita rasa mewah itu diberikan kepada para napi sebagai insentif untuk melunakkan keyakinan mereka. Semua pusat rehabilitasi menyandang nama menteri dalam negeri saat ini, yang memimpin tindakan tegas pemerintah terhadap Al Qaeda di Arab Saudi menyusul serangan mematikan kelompok itu tahun 2003 hingga 2006 yang menewaskan lebih dari 150 orang Saudi dan warga asing.

Selama pemberantasan itu, banyak militan melarikan diri ke selatan, ke Yaman selatan, yang tanpa hukum dan wilayah tenggara di mana jaringan itu membentuk "Al Qaeda di Semenanjung Arab" pada Januari 2009. AS menggolongkan Al Qaeda di Semenanjung Arab sebagai cabang kelompok itu yang paling aktif dan mematikan.

Fasilitas mewah di Riyadh mencakup wilayah setara dengan sekitar 10 lapangan sepak bola dan dirancang untuk menampung 228 napi dari kelompok yang menyimpang itu, istilah yang digunakan Pemerintah Arab Saudi untuk merujuk kepada Al Qaeda.

Masing-masing 12 bangunan di fasilitas unggulan itu menampung 19 napi, yang akan memiliki akses ke suite khusus, di mana mereka dapat menghabiskan waktu bersama anggota keluarga yang berkunjung.

Pada siang hari, para napi akan menghadiri seminar tentang masalah agama. Seminar itu bertujuan mengajari mereka prihal kesesatan pemikiran mereka tentang jihad. "Dalam rangka memerangi terorisme, kita harus memberi mereka keseimbangan intelektual dan psikologis melalui dialog dan persuasi," kata direktur pusat rehabilitasi itu, Said al-Bishi.

Dia mengatakan, sebanyak 2.336 tahanan Al Qaeda kini telah menjalani skema rehabilitasi itu. Namun, tidak semua napi Al Qaeda yang menjalani program itu menjadi "berubah" karena rehabilitasi mereka. Bahkan, direktur pusat rehabilitasi itu mengakui dalam sebuah wawancara dengan para wartawan bahwa sekitar 10 persen dari mereka yang menjalani program itu kembali ke sel teroris mereka.

Para kritikus berpendapat bahwa pelajaran agama yang diberikan kepada narapidana itu justru tidak cukup moderat dan terlalu dekat dengan banyak interpretasi kelompok itu tentang Al Quran dan terlalu dekat dengan pandangan yang dianut Al Qaeda.

Bengkalis Pos adalah blog berita kutipan dari berbagai sumber, dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain. Jika ada salah silahkan beri kritikan, Anda juga diperbolehkan untuk berkomentar yang tentunya tidak menyinggung SARA.

Bagaimana Pendapat Anda?
 
Copyright © 2015. Bengkalis Pos - All Rights Reserved | Template By Maskolis | Modifikasi By TutorNesia | Proudly powered by Blogger