Advertise

Banyak Warga Bengkalis Takut Minum Obat

Bengkalis Pos
Bengkalis Pos ~ Ternyata, partisipasi warga terhadap pengobatan pencegahan penyakit filariasis atau kaki gajah di Bengkalis, masih kurang. Meskipun sudah mengambil obat anti penyakit tersebut, tetapi warga masih enggan atau meminum dengan alasan takut dengan efek samping.

Obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) dan Albendazole untuk pencegah penyakit kaki gajah ini diberikan kepada masyarakat secara gratis. Sejumlah warga lebih memilih menyimpan obat tersebut.

"Saya belum minum obat itu, mendengar efek samping mual, bisa pingsan, jadi lebih baik disimpan saja dan tidak saya minum," ujar Sukem, salah seorang warga Desa Jangkang, Kecamatan Bantan, Bengkalis saat berbincang dengan riauterkinicom di kediamannya, Senin (25/2).

Terpisah Kepala Seksi (Kasi) Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis Ediyanto menjelaskan, kedua obat pencegah filariasis itu adalah obat cacing. Berfungsi untuk membunuh cacing filaria dan cacing usus di dalam tubuh manusia, dan seperti obat cacing biasa.

Apabila dalam tubuh manusia tidak ada cacing filaria atau cacing usus, tidak mempunyai terjadi reaksi apapun terhadap tubuh. Akan tetapi apabila di dalam tubuh terdapat cacing filaria ataupun cacing usus, tubuh akan bereaksi apabila telah memakan obat seperti menimbulkan mual, muntah, pusing-pusing dan lain-lain dalam waktu antara setengah jam, 1 jam, atau 2 x 24 jam setelah meminum obat. Namun, reaksi ini akan hilang dengan sendirinya apabila cacing filaria dan cacing usus telah mati semua di tubuh.

"Cacing filaria berada di seluruh kelenjar seperti selangkangan dan ketiak, dibunuh dengan DCE. Sedangkan cacing usus, seperti kremi, cambuk, pita, harus dibunuh dengan obat Albendazole," ujarnya.

Pihaknya sangat menganjurkan, agar masyarakat meminum 2 (dua) jenis obat cacing tersebut. Masyarakat juga jangan ragu, obat ini tidak ada dijual bebas seperti obat cacing biasanya dan diberikan secara gratis.

"Karena akibat jika kita tidak memakan obat ini, sangat dikhawatirkan kecacatan menetap dalam tubuh, seperti pembesaran pada kaki, pada tangan, kemudian pembesaran payudara (wanita, red) pembesaran buah zakar.

Manusia tidak produktif lagi. Jadi tujuan pemerintah melakukan eliminasi filariasis karena daerah kita adalah salah satu endemis penyakit ini. Jadi kita harus eliminasi 2013 sampai berturut-turut selama 5 tahun dan berakhir 2017," terangnya.

Pemberian obat ini juga tidak bisa dilakukan seluruh warga, diantaranya anak kurang dari anak 2 tahun, ibu hamil, usia lanjut di atas 65 tahun, gangguan gagal ginjal, gangguan fungsi hati, menderita epilepsi, sedang sakit berat, kurang gizi, darah tinggi. Pencegahannya adalah menghindari gigitan semua jenis nyamuk.

"Jika ada yang darah tinggi atau kencing manis silahkan ditunda dahulu dan menunggu kondisinya lebih baik," imbuhnya. Beberapa waktu lalu Bupati Bengkalis Herliyan Saleh, disela sela memberikan obat pencegahan penyakit kaki gajah di Desa Sebauk Bengkalis mengatakan, masyarakat dapat terjangkit penyakit filariasis dengan seribu atau tiga ribu kali gigitan nyamuk yang sebelumnya telah menggigit tubuh dari orang yang terjangkit.

Pengobatan massal sesuai dengan kebijakan dari Kementerian Kesehatan RI dan pencegahan dilakukan secara berkelanjutan.
Bengkalis Pos
Bengkalis Pos ~ Ternyata, partisipasi warga terhadap pengobatan pencegahan penyakit filariasis atau kaki gajah di Bengkalis, masih kurang. Meskipun sudah mengambil obat anti penyakit tersebut, tetapi warga masih enggan atau meminum dengan alasan takut dengan efek samping.

Obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) dan Albendazole untuk pencegah penyakit kaki gajah ini diberikan kepada masyarakat secara gratis. Sejumlah warga lebih memilih menyimpan obat tersebut.

"Saya belum minum obat itu, mendengar efek samping mual, bisa pingsan, jadi lebih baik disimpan saja dan tidak saya minum," ujar Sukem, salah seorang warga Desa Jangkang, Kecamatan Bantan, Bengkalis saat berbincang dengan riauterkinicom di kediamannya, Senin (25/2).

Terpisah Kepala Seksi (Kasi) Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis Ediyanto menjelaskan, kedua obat pencegah filariasis itu adalah obat cacing. Berfungsi untuk membunuh cacing filaria dan cacing usus di dalam tubuh manusia, dan seperti obat cacing biasa.

Apabila dalam tubuh manusia tidak ada cacing filaria atau cacing usus, tidak mempunyai terjadi reaksi apapun terhadap tubuh. Akan tetapi apabila di dalam tubuh terdapat cacing filaria ataupun cacing usus, tubuh akan bereaksi apabila telah memakan obat seperti menimbulkan mual, muntah, pusing-pusing dan lain-lain dalam waktu antara setengah jam, 1 jam, atau 2 x 24 jam setelah meminum obat. Namun, reaksi ini akan hilang dengan sendirinya apabila cacing filaria dan cacing usus telah mati semua di tubuh.

"Cacing filaria berada di seluruh kelenjar seperti selangkangan dan ketiak, dibunuh dengan DCE. Sedangkan cacing usus, seperti kremi, cambuk, pita, harus dibunuh dengan obat Albendazole," ujarnya.

Pihaknya sangat menganjurkan, agar masyarakat meminum 2 (dua) jenis obat cacing tersebut. Masyarakat juga jangan ragu, obat ini tidak ada dijual bebas seperti obat cacing biasanya dan diberikan secara gratis.

"Karena akibat jika kita tidak memakan obat ini, sangat dikhawatirkan kecacatan menetap dalam tubuh, seperti pembesaran pada kaki, pada tangan, kemudian pembesaran payudara (wanita, red) pembesaran buah zakar.

Manusia tidak produktif lagi. Jadi tujuan pemerintah melakukan eliminasi filariasis karena daerah kita adalah salah satu endemis penyakit ini. Jadi kita harus eliminasi 2013 sampai berturut-turut selama 5 tahun dan berakhir 2017," terangnya.

Pemberian obat ini juga tidak bisa dilakukan seluruh warga, diantaranya anak kurang dari anak 2 tahun, ibu hamil, usia lanjut di atas 65 tahun, gangguan gagal ginjal, gangguan fungsi hati, menderita epilepsi, sedang sakit berat, kurang gizi, darah tinggi. Pencegahannya adalah menghindari gigitan semua jenis nyamuk.

"Jika ada yang darah tinggi atau kencing manis silahkan ditunda dahulu dan menunggu kondisinya lebih baik," imbuhnya. Beberapa waktu lalu Bupati Bengkalis Herliyan Saleh, disela sela memberikan obat pencegahan penyakit kaki gajah di Desa Sebauk Bengkalis mengatakan, masyarakat dapat terjangkit penyakit filariasis dengan seribu atau tiga ribu kali gigitan nyamuk yang sebelumnya telah menggigit tubuh dari orang yang terjangkit.

Pengobatan massal sesuai dengan kebijakan dari Kementerian Kesehatan RI dan pencegahan dilakukan secara berkelanjutan.

Bengkalis Pos adalah blog berita kutipan dari berbagai sumber, dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain. Jika ada salah silahkan beri kritikan, Anda juga diperbolehkan untuk berkomentar yang tentunya tidak menyinggung SARA.

Bagaimana Pendapat Anda?
 
Copyright © 2015. Bengkalis Pos - All Rights Reserved | Template By Maskolis | Modifikasi By TutorNesia | Proudly powered by Blogger