Advertise

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP

Bengkalis Pos
Bengkalis Pos ~ Di stasiun bogor kita bertemu meretas rindu, berlapis-lapis janji penuh debu selalu saja kita saling tengkar, dalam amarah engkau ke luar stasiun enyah entah ke mana sepertinya tak mau lagi bertemu; bangku peron bergetar ke stasiun kota aku, dalam commuter line sepasang kekasih berpeluk di hadapanku amat keterlaluan, tak tahu retas hatiku aku mabuk dan terlelap aku jadi penumpang turun paling akhir, tubuhku seringan kapas nyangkut di angkot lalu terlunta di itc mangga dua, naik eskalator ke lantai tujuh aku menyantap sop buntut dan iga bakar, teh-botol juga gado-gado aku bernafas lagi, segar dan dari lantai tujuh aku menuruni tangga demi tangga mengikuti suara hati kuseret langkahku; benarkah masih ada cinta sejati?

Aku tersasar ke bawah monas, stasiun gambir, tanah abang, blok m, bahkan sampai ke tanjung priok; tapi setelah perutku benar-benar lapar dan larut malam terjungkal aku di stasiun kota, sudah tak ada lagi commuter aku terbujur di lapak kaki-lima yang kotor, hingga pagi antara tidur dan tidak seorang gelandangan yang bermalam di lapak lain tidak berapa jauh dariku menendang kakiku seolah membangunkan dan mengusirku, aku tersintak jakarta sudah mulai menggeliat, bau pesing dan bau got mengepungku aku berdiri di depan loket, dan akulah orang pertama yang membeli karcis commuter kota-bogor, dan aku jugalah orang pertama yang naik, tapi bukan ternyata bukan aku orang pertama, seseorang yang kusebut ‘engkau’ sudah berada dalam commuter, kita; aku dan ‘engkau’ sama membuang muka sejumlah orang mulai berdatangan juga, kian ramai, ketika commuter jalan kulihat ‘engkau’ terhuyung pindah ke gerbong lain, aku mabuk dan terlelap seorang petugas berseragam biru menendang kakiku, membangunkan dan mengusirku, aku turun dari commuter; aku ke luar stasiun hendak enyah entah ke mana, menyeret langkah mengikuti suara hati benarkah masih ada kehidupan yang sejati? seperti yang pernah dikatakan almarhum ayahku:

“menanam kebaikan memetik kebaikan, menanam keburukan menuai keburukan” tapi belum begitu jauh kutinggalkan stasiun, seseorang yang kusebut ‘engkau’ meringkus-menyeretku ke dalam sebuah rumah-tua-rusak yang kosong dari semak-belukar yang tumbuh di belakang rumah tua itu, seseorang berjubah kuning-keemasan bersorot-mata kemilau muncul; dan menghardik: “hai, tuan! menyerahlah di kedalaman cintanya, ia-lah perempuan jelmaan dari telaga dewi asal tumbuh edelweis yang kausimpan dalam hati dan jiwamu!”

Aku tergeragap; seseorang berjubah itu menghilang; seseorang yang kusebut ‘engkau’ menubrukku, memelukku begitu erat! hatiku hancur, aku jadi teringat pesan ibuku sebelum kutinggalkan ranah minang berpuluh tahun lalu: “muliakanlah perempuan yang mencintamu, selamanya!” aku pun memeluknya sangat erat, kuharap hatinya tak lebur.

Bogor, 18 Maret 2013.

SI PENYAIR MALIN

Bocah itu berguling di pasir laut, lidah ombak menelannya ia terus berguling, ibunya menjerit cemas, menariknya ke pasir pantai “malin cepatlah besar, ranah rantau menantimu” si malin lajang merantau juga akhirnya; terbang dari bandara minangkabau di tanah jawa malin tidaklah berdagang, tapi bertualang, menggelandang memburu kata-kata di seluruh kawasan kumuh jakarta dan ngamen dari stasiun ke stasiun dari terminal ke terminal, dari pagi hingga malam pagi hingga malam sang ibu mendoakan malin; “sukseslah dan cepatlah pulang, anakku!”

bertahun-tahun kemudian pulang juga akhirnya malin; mengeluarkan ribuan cabikan kertas dari koper besar di hadapan sang ibu yang kian renta dipeluknya malin oleh ibunya, berderai airmata keduanya “kertas-kertas apa yang kaubawa ini, malin?” tanya ibunya menyeka airmata dengan lantang malin menjawab; “bunda, ini hasil banting-tulangku: beribu-ribu puisi!” bercucuran air-mata bunda malin!

Bogor, 13 Maret 2013.

TENGGELAM AKU DI HATINYA

aku tak mungkin menantang matahari mataku akan rabun atau mungkin juga buta, maka aku menekur, dan nyanyi tekukur dari atas pohon mahoni meningkahi langkah lari-kecilku yang telanjang menuruni lembah, di tikungan paling akhir menjelang sampai di sisi danau, seorang perempuan membuang daun-resahnya resahnya itu berserak bertumpang-tindih dengan dedaunan mahoni yang mengering beberapa saat kita bersitatap; kaukah perempuan yang menghabiskan hari-hari di sisi danau dan pernah menjalin puisi surealis denganku? kau mematung, padahal aku tidak menghendaki lahirnya monolog basi atau mari kita terjun saja lagi ke dalam danau ini perempuan itu menggeleng, membuka mulutnya “aku memang penjaga danau ini, tapi barangkali bukan perempuan yang kauhendaki,” matanya menyala kian menyala dengan seribu debar  aku tinggalkan perempuan itu

“sabar tuan penyair, ada hal penting yang mungkin perlu kita bicarakan” reflek aku menoleh; “kau tak paham sejarah cintaku begitu penuh debu dan sembilu,” matanya meredup kian meredup “tak usahlah terjuni danau, selami dan berenanglah dalam hatiku, tuan penyair,” dengan penuh rasa curiga aku pun terjun dan berenang dalam hatinya: aku terbentur bebatuan licin-runcing, angin mengentalkan kabut hatinya ternyata penuh ranjau, di sana sini duri dan miang air danau mengeruh kian keruh, segalanya menakutkan aku tak bisa melihat dan menemukan jalan ke luar tenggelam aku di hatinya.

Bogor, 12 Maret 2013

TUBUHMU MELAYANG KE ATAS LANGIT SUREALIS

rembang petang perjalanan segera dihentikan aku melihat tubuhmu melayang ke atas langit surealis dalam zikir aku begitu kecil dan tak berguna aku seperti lebih kecil dari sebutir debu yang terkapar sekali waktu boleh aku mengenalimu dengan kacamata batinku? mungkin tubuhmu adalah mahacahaya dan rambutmu bergerai sewangi melati suaramu tak terdengar namun kata-katamu merasuk ke dalam darahku elusan tanganmu tak terasa tapi menidurkanku dari resah menyala lebih setengah mati aku merindukan pertemuan denganmu sekali waktu izinkan aku berlama-lama bercengkerama denganmu seraya membolak-balik seluruh halaman puisi yang mentah dengan hidangan kue tar dan minuman air dari sungai yang mengalir di bawah rumahmu; sangatlah takjub seandainya aku benar bertemu denganmu sekali waktu aku ingin juga bersetubuh denganmu!

Bogor, 12 Maret 2013

SAYAP KUPU-KUPU DI MEJA TAMU

kutemukan beberapa lembar sayap kupu-kupu di meja tamu “ini hari minggu, kenapa tidak bepergian?” entah suara siapa selembar sayap kupu-kupu menjelma sungai kenangan: bening lembah anai mengalirkan ribuan air-cahaya kita mandi-mandi, berselonjor di batu-batu yang licin di perdu dan belantara kita dendangkan ratapsetelah itu hangatkan tubuh dengan kopi-susu: telaga dewi di sekitarnya tumbuh edelweis kita perebutkan, beberapa kali nafasmu tersengal

“jangan kauremas jadi puisi ini edelweis!” pintamu aku mengangguk tapi edelweis kukunyah-kunyah juga aku telan dan sungguh aku mual; aku muntah puisi: jenjang empat puluh empat kita turuni nasi kapau dan keripik sanjai di tangan dari pasar bawah kita melihat jam gadang sudah pukul enam, segera ke padang bergumul dengan berita dan tajuk rencana sungai kenangan terus saja mengalir entah ke mana-mana, hingga sampai juga kulihat lagi beberapa lembar sayap kupu-kupu di meja tamu; perlahan menyatu menyerupai wajahmu.

Bogor, 10 Maret 2013

PERTENGKARAN DENGAN SUNYI
(Sulastri)

sepagi ini di ruang lobby pertengkaran dengan sunyi memaksaku beranjak ke kamar ternyata lebih nikmat bercakap dengan cooling body spray dengan citra lasting white, gatsby water gloss soft, caladine powder analgesic balm counterpain, inspiring lychee lemon mizone, danone aqua atau bahkan dengan selembar puisi yang sangat lusuh (Engkau pernah bertemu dengan seseorang yang matanya buta mencari kekasih yang ingkar janji? berjalan seraya terus menggumamkan sebuah nama) aku jadi sangat ingat seseorang bermata saya perempuan yang menyulam perih di sisi sebuah danau seraya bergumam apa saja tentang mantan kekasihnya yang ingkar janji dan di penghujung senja selalu saja ia berteriak kepadaku “tuan penyair, abadikan seluruh puisimu dalam hati dan jiwaku yang retak!” aku selalu saja terkesima dibuatnya perempuan yang hari-harinya dihabiskan di sisi sebuah danau selalu saja mengulurkan sekuntum mawar ungu dari balik punggungnya sebelum ia melompat dan terjun ke dalam danau “ternyata danau telah benar-benar meranumkan kesakithatianku, tuan penyair” mselalu saja aku melambaikan tanganku setelah ia puas mandi dan menyelam “terjunlah, tuan penyair! kita mandi dan berselam, air danau ini penuh inspirasi!” msungguh aku lebih terkesima mair danau penuh inspirasi

aku pun terjun ke dalam danau
aku dan ia lama saling tatap tapi diam
aku dan ia berpelukan, dalam diam
aku dan ia sama menyelam, aih, percintaan yang surealis
aku dan ia menjalin sebuah puisi
puisi yang kekal bercahaya

Bogor, 10 Maret 2013

TRAGEDI APEL DAN RUANG TAMU

di ruang tamu mestinya tak kau suapkan buah apel ke mulutku iris demi iris apel telah memabukkanku "ini apel bukan buah kuldi," bisikmu mana kau guncang-guncang tubuhku tubuh yang perlahan beku ruhku melompat ke luar beberapa saat berdiri di halaman rumput-rumput menghampar kering semua kembang layu ruhku melesat ke laut bergulingan di runcing-runcing karang mendaki bukit memeluk kabut menuruni lembah mengais-ngais angin basah melayang pergi-pulang cilacap-padang aku telah benar-benar mabuk aku mau apelmu lagi kuketuk pintu ruang tamu "masuklah," sambutmu, "kusuapkan lagi iris demi iris apelku..."

di ruang tamu sebilah pisau terus mengiris apel demi apel kau suapkan ke mulutku tubuhku yang beku perlahan meleleh menjelma gumpal-gumpal sajak berlumuran darah.

Bogor, 9 Maret 2013

MENGHAPUS AIRMATARINDUMU

ini siang ke berapa? kerikil di sepanjang jalan berbukit ini memecah telapak kaki-sunyiku kau masih ingat tentang sebuah stupa bercahaya sepanjang lorong jiwaku dan jiwamu? stupa yang kita cipta dengan idiom bahasa dan isyarat dan sekuntum edelweis stupa yang bergetar bila senja basah berkabut betapa dulu kau pernah memelukku begitu erat di sepanjang jalan berkerikil tajam di bukit ini kita sama mengecup kening senja, senja yang basah berkabut air mata rindumu jatuh dalam gerimis kian melebat “kota ini serupa sebuah lembah batu berlumut rindu,” ujarmu di telingaku kepergian yang berhari-hari melahirkan kerinduan pada sebuah stupa cahaya sepanjang lorong jiwaku dan jiwamu “kita tinggalkan saja kota ini, kembali ke teluk nusakambangan kita peluk runcing karang, kita nikmati debur dan alun gelombang” gerimis membasahi senja  aku pun segera pulang menghapus airmatarindumu.

Bogor, 7 Maret 2013.

Eddy Pranata PNP, sekarang bermukim di sebuah kampung sunyi di balik ketinggian bukit, 40 km barat kota Purwokerto, Jawa Tengah. Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatra Barat, Indonesia. Sehari-hari beraktifitas di  Pelabuhan Tanjung Intan, Cilacap, Jawa Tengah. Mulai menulis puisi tahun 1983. Karya puisinya terkumpul dalam sejumlah antologi bersama, seperti: Rantak 8 (1991), Sahayun (1994), Kebangkitan Nusantara II (1995), Batin (1996), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Hawa (1996), Antologi Puisi Indonesia (1997), Antologi Puisi Sumatra (1998), Antologi Puisi Sumatra Barat (1999), Diverse (from 120 indonesian poets) Shell Jagat Tempurung, Padang, 2012, Pinangan (35 penulis Dapur Sastra) Teras Budaya Jakarta, 2012, Flow into the Sink into the Gutter, Shell Jagat Tempurung, Padang, 2012 dll. Buku kumpulan puisi tunggal yang sudah terbit : Improvisasi Sunyi, (Jalur Sastra, Padang, 1997) dan Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (Shell Jagat Tempurung, Padang, 2012). Tahun 1996; mengikuti Mimbar Penyair Abad 21 di Jakarta. Tahun 1997: Pertemuan Sastrawan Nusantara di Kayutanam Sumbar. Tahun 1999: Pertemuan Sastrawan Nusantara di Johor Bahru, Malaysia. Pernah menetap di kota Padang, 1981-2004. Sekarang masih menulis puisi, walau jarang dipublikasikan. Email: penyaircilacap@yahoo.co.id.
Bengkalis Pos
Bengkalis Pos ~ Di stasiun bogor kita bertemu meretas rindu, berlapis-lapis janji penuh debu selalu saja kita saling tengkar, dalam amarah engkau ke luar stasiun enyah entah ke mana sepertinya tak mau lagi bertemu; bangku peron bergetar ke stasiun kota aku, dalam commuter line sepasang kekasih berpeluk di hadapanku amat keterlaluan, tak tahu retas hatiku aku mabuk dan terlelap aku jadi penumpang turun paling akhir, tubuhku seringan kapas nyangkut di angkot lalu terlunta di itc mangga dua, naik eskalator ke lantai tujuh aku menyantap sop buntut dan iga bakar, teh-botol juga gado-gado aku bernafas lagi, segar dan dari lantai tujuh aku menuruni tangga demi tangga mengikuti suara hati kuseret langkahku; benarkah masih ada cinta sejati?

Aku tersasar ke bawah monas, stasiun gambir, tanah abang, blok m, bahkan sampai ke tanjung priok; tapi setelah perutku benar-benar lapar dan larut malam terjungkal aku di stasiun kota, sudah tak ada lagi commuter aku terbujur di lapak kaki-lima yang kotor, hingga pagi antara tidur dan tidak seorang gelandangan yang bermalam di lapak lain tidak berapa jauh dariku menendang kakiku seolah membangunkan dan mengusirku, aku tersintak jakarta sudah mulai menggeliat, bau pesing dan bau got mengepungku aku berdiri di depan loket, dan akulah orang pertama yang membeli karcis commuter kota-bogor, dan aku jugalah orang pertama yang naik, tapi bukan ternyata bukan aku orang pertama, seseorang yang kusebut ‘engkau’ sudah berada dalam commuter, kita; aku dan ‘engkau’ sama membuang muka sejumlah orang mulai berdatangan juga, kian ramai, ketika commuter jalan kulihat ‘engkau’ terhuyung pindah ke gerbong lain, aku mabuk dan terlelap seorang petugas berseragam biru menendang kakiku, membangunkan dan mengusirku, aku turun dari commuter; aku ke luar stasiun hendak enyah entah ke mana, menyeret langkah mengikuti suara hati benarkah masih ada kehidupan yang sejati? seperti yang pernah dikatakan almarhum ayahku:

“menanam kebaikan memetik kebaikan, menanam keburukan menuai keburukan” tapi belum begitu jauh kutinggalkan stasiun, seseorang yang kusebut ‘engkau’ meringkus-menyeretku ke dalam sebuah rumah-tua-rusak yang kosong dari semak-belukar yang tumbuh di belakang rumah tua itu, seseorang berjubah kuning-keemasan bersorot-mata kemilau muncul; dan menghardik: “hai, tuan! menyerahlah di kedalaman cintanya, ia-lah perempuan jelmaan dari telaga dewi asal tumbuh edelweis yang kausimpan dalam hati dan jiwamu!”

Aku tergeragap; seseorang berjubah itu menghilang; seseorang yang kusebut ‘engkau’ menubrukku, memelukku begitu erat! hatiku hancur, aku jadi teringat pesan ibuku sebelum kutinggalkan ranah minang berpuluh tahun lalu: “muliakanlah perempuan yang mencintamu, selamanya!” aku pun memeluknya sangat erat, kuharap hatinya tak lebur.

Bogor, 18 Maret 2013.

SI PENYAIR MALIN

Bocah itu berguling di pasir laut, lidah ombak menelannya ia terus berguling, ibunya menjerit cemas, menariknya ke pasir pantai “malin cepatlah besar, ranah rantau menantimu” si malin lajang merantau juga akhirnya; terbang dari bandara minangkabau di tanah jawa malin tidaklah berdagang, tapi bertualang, menggelandang memburu kata-kata di seluruh kawasan kumuh jakarta dan ngamen dari stasiun ke stasiun dari terminal ke terminal, dari pagi hingga malam pagi hingga malam sang ibu mendoakan malin; “sukseslah dan cepatlah pulang, anakku!”

bertahun-tahun kemudian pulang juga akhirnya malin; mengeluarkan ribuan cabikan kertas dari koper besar di hadapan sang ibu yang kian renta dipeluknya malin oleh ibunya, berderai airmata keduanya “kertas-kertas apa yang kaubawa ini, malin?” tanya ibunya menyeka airmata dengan lantang malin menjawab; “bunda, ini hasil banting-tulangku: beribu-ribu puisi!” bercucuran air-mata bunda malin!

Bogor, 13 Maret 2013.

TENGGELAM AKU DI HATINYA

aku tak mungkin menantang matahari mataku akan rabun atau mungkin juga buta, maka aku menekur, dan nyanyi tekukur dari atas pohon mahoni meningkahi langkah lari-kecilku yang telanjang menuruni lembah, di tikungan paling akhir menjelang sampai di sisi danau, seorang perempuan membuang daun-resahnya resahnya itu berserak bertumpang-tindih dengan dedaunan mahoni yang mengering beberapa saat kita bersitatap; kaukah perempuan yang menghabiskan hari-hari di sisi danau dan pernah menjalin puisi surealis denganku? kau mematung, padahal aku tidak menghendaki lahirnya monolog basi atau mari kita terjun saja lagi ke dalam danau ini perempuan itu menggeleng, membuka mulutnya “aku memang penjaga danau ini, tapi barangkali bukan perempuan yang kauhendaki,” matanya menyala kian menyala dengan seribu debar  aku tinggalkan perempuan itu

“sabar tuan penyair, ada hal penting yang mungkin perlu kita bicarakan” reflek aku menoleh; “kau tak paham sejarah cintaku begitu penuh debu dan sembilu,” matanya meredup kian meredup “tak usahlah terjuni danau, selami dan berenanglah dalam hatiku, tuan penyair,” dengan penuh rasa curiga aku pun terjun dan berenang dalam hatinya: aku terbentur bebatuan licin-runcing, angin mengentalkan kabut hatinya ternyata penuh ranjau, di sana sini duri dan miang air danau mengeruh kian keruh, segalanya menakutkan aku tak bisa melihat dan menemukan jalan ke luar tenggelam aku di hatinya.

Bogor, 12 Maret 2013

TUBUHMU MELAYANG KE ATAS LANGIT SUREALIS

rembang petang perjalanan segera dihentikan aku melihat tubuhmu melayang ke atas langit surealis dalam zikir aku begitu kecil dan tak berguna aku seperti lebih kecil dari sebutir debu yang terkapar sekali waktu boleh aku mengenalimu dengan kacamata batinku? mungkin tubuhmu adalah mahacahaya dan rambutmu bergerai sewangi melati suaramu tak terdengar namun kata-katamu merasuk ke dalam darahku elusan tanganmu tak terasa tapi menidurkanku dari resah menyala lebih setengah mati aku merindukan pertemuan denganmu sekali waktu izinkan aku berlama-lama bercengkerama denganmu seraya membolak-balik seluruh halaman puisi yang mentah dengan hidangan kue tar dan minuman air dari sungai yang mengalir di bawah rumahmu; sangatlah takjub seandainya aku benar bertemu denganmu sekali waktu aku ingin juga bersetubuh denganmu!

Bogor, 12 Maret 2013

SAYAP KUPU-KUPU DI MEJA TAMU

kutemukan beberapa lembar sayap kupu-kupu di meja tamu “ini hari minggu, kenapa tidak bepergian?” entah suara siapa selembar sayap kupu-kupu menjelma sungai kenangan: bening lembah anai mengalirkan ribuan air-cahaya kita mandi-mandi, berselonjor di batu-batu yang licin di perdu dan belantara kita dendangkan ratapsetelah itu hangatkan tubuh dengan kopi-susu: telaga dewi di sekitarnya tumbuh edelweis kita perebutkan, beberapa kali nafasmu tersengal

“jangan kauremas jadi puisi ini edelweis!” pintamu aku mengangguk tapi edelweis kukunyah-kunyah juga aku telan dan sungguh aku mual; aku muntah puisi: jenjang empat puluh empat kita turuni nasi kapau dan keripik sanjai di tangan dari pasar bawah kita melihat jam gadang sudah pukul enam, segera ke padang bergumul dengan berita dan tajuk rencana sungai kenangan terus saja mengalir entah ke mana-mana, hingga sampai juga kulihat lagi beberapa lembar sayap kupu-kupu di meja tamu; perlahan menyatu menyerupai wajahmu.

Bogor, 10 Maret 2013

PERTENGKARAN DENGAN SUNYI
(Sulastri)

sepagi ini di ruang lobby pertengkaran dengan sunyi memaksaku beranjak ke kamar ternyata lebih nikmat bercakap dengan cooling body spray dengan citra lasting white, gatsby water gloss soft, caladine powder analgesic balm counterpain, inspiring lychee lemon mizone, danone aqua atau bahkan dengan selembar puisi yang sangat lusuh (Engkau pernah bertemu dengan seseorang yang matanya buta mencari kekasih yang ingkar janji? berjalan seraya terus menggumamkan sebuah nama) aku jadi sangat ingat seseorang bermata saya perempuan yang menyulam perih di sisi sebuah danau seraya bergumam apa saja tentang mantan kekasihnya yang ingkar janji dan di penghujung senja selalu saja ia berteriak kepadaku “tuan penyair, abadikan seluruh puisimu dalam hati dan jiwaku yang retak!” aku selalu saja terkesima dibuatnya perempuan yang hari-harinya dihabiskan di sisi sebuah danau selalu saja mengulurkan sekuntum mawar ungu dari balik punggungnya sebelum ia melompat dan terjun ke dalam danau “ternyata danau telah benar-benar meranumkan kesakithatianku, tuan penyair” mselalu saja aku melambaikan tanganku setelah ia puas mandi dan menyelam “terjunlah, tuan penyair! kita mandi dan berselam, air danau ini penuh inspirasi!” msungguh aku lebih terkesima mair danau penuh inspirasi

aku pun terjun ke dalam danau
aku dan ia lama saling tatap tapi diam
aku dan ia berpelukan, dalam diam
aku dan ia sama menyelam, aih, percintaan yang surealis
aku dan ia menjalin sebuah puisi
puisi yang kekal bercahaya

Bogor, 10 Maret 2013

TRAGEDI APEL DAN RUANG TAMU

di ruang tamu mestinya tak kau suapkan buah apel ke mulutku iris demi iris apel telah memabukkanku "ini apel bukan buah kuldi," bisikmu mana kau guncang-guncang tubuhku tubuh yang perlahan beku ruhku melompat ke luar beberapa saat berdiri di halaman rumput-rumput menghampar kering semua kembang layu ruhku melesat ke laut bergulingan di runcing-runcing karang mendaki bukit memeluk kabut menuruni lembah mengais-ngais angin basah melayang pergi-pulang cilacap-padang aku telah benar-benar mabuk aku mau apelmu lagi kuketuk pintu ruang tamu "masuklah," sambutmu, "kusuapkan lagi iris demi iris apelku..."

di ruang tamu sebilah pisau terus mengiris apel demi apel kau suapkan ke mulutku tubuhku yang beku perlahan meleleh menjelma gumpal-gumpal sajak berlumuran darah.

Bogor, 9 Maret 2013

MENGHAPUS AIRMATARINDUMU

ini siang ke berapa? kerikil di sepanjang jalan berbukit ini memecah telapak kaki-sunyiku kau masih ingat tentang sebuah stupa bercahaya sepanjang lorong jiwaku dan jiwamu? stupa yang kita cipta dengan idiom bahasa dan isyarat dan sekuntum edelweis stupa yang bergetar bila senja basah berkabut betapa dulu kau pernah memelukku begitu erat di sepanjang jalan berkerikil tajam di bukit ini kita sama mengecup kening senja, senja yang basah berkabut air mata rindumu jatuh dalam gerimis kian melebat “kota ini serupa sebuah lembah batu berlumut rindu,” ujarmu di telingaku kepergian yang berhari-hari melahirkan kerinduan pada sebuah stupa cahaya sepanjang lorong jiwaku dan jiwamu “kita tinggalkan saja kota ini, kembali ke teluk nusakambangan kita peluk runcing karang, kita nikmati debur dan alun gelombang” gerimis membasahi senja  aku pun segera pulang menghapus airmatarindumu.

Bogor, 7 Maret 2013.

Eddy Pranata PNP, sekarang bermukim di sebuah kampung sunyi di balik ketinggian bukit, 40 km barat kota Purwokerto, Jawa Tengah. Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatra Barat, Indonesia. Sehari-hari beraktifitas di  Pelabuhan Tanjung Intan, Cilacap, Jawa Tengah. Mulai menulis puisi tahun 1983. Karya puisinya terkumpul dalam sejumlah antologi bersama, seperti: Rantak 8 (1991), Sahayun (1994), Kebangkitan Nusantara II (1995), Batin (1996), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Hawa (1996), Antologi Puisi Indonesia (1997), Antologi Puisi Sumatra (1998), Antologi Puisi Sumatra Barat (1999), Diverse (from 120 indonesian poets) Shell Jagat Tempurung, Padang, 2012, Pinangan (35 penulis Dapur Sastra) Teras Budaya Jakarta, 2012, Flow into the Sink into the Gutter, Shell Jagat Tempurung, Padang, 2012 dll. Buku kumpulan puisi tunggal yang sudah terbit : Improvisasi Sunyi, (Jalur Sastra, Padang, 1997) dan Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (Shell Jagat Tempurung, Padang, 2012). Tahun 1996; mengikuti Mimbar Penyair Abad 21 di Jakarta. Tahun 1997: Pertemuan Sastrawan Nusantara di Kayutanam Sumbar. Tahun 1999: Pertemuan Sastrawan Nusantara di Johor Bahru, Malaysia. Pernah menetap di kota Padang, 1981-2004. Sekarang masih menulis puisi, walau jarang dipublikasikan. Email: penyaircilacap@yahoo.co.id.

Bengkalis Pos adalah blog berita kutipan dari berbagai sumber, dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain. Jika ada salah silahkan beri kritikan, Anda juga diperbolehkan untuk berkomentar yang tentunya tidak menyinggung SARA.

Bagaimana Pendapat Anda?
 
Copyright © 2015. Bengkalis Pos - All Rights Reserved | Template By Maskolis | Modifikasi By TutorNesia | Proudly powered by Blogger