Advertise

Bunuh Diri Karena Sakit Tak Terobati

Tanggal 11 June 2013 | 6:15:00 PM

Bengkalis Pos
Bengkalis Pos
~ Orang-orang sedang sakit, bangsa sedang sakit, mungkin juga dunia sedang sakit. Musim sungsang, hutan gundul, laut memanas, bencana di mana-mana. Di Konsulat Jenderal Jeddah, orang-orang marah dan membakar gedung Konjen, mungkin juga karena "sakit".

Sebagian orang sakit dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan perawatan layak, tapi sebagian lainnya... bahkan untuk membiayai hidupnya yang sederhana saja tidak mampu, apalagi untuk berobat.

Dan hari ini, saya hendak menulis "balada orang-orang malang" itu, orang-orang sakit yang akhirnya memilih mati lantaran tak sanggup berobat ke rumah sakit. Orang-orang itu mati tanpa daya. Lantaran harga obat yang mahal dan biaya rumah sakit yang tak terjangkau, mereka pun memilih bunuh diri untuk mengakhiri derita panjang lantaran sakit.

Semula saya tak mau berpikir yang ribet-ribet, terutama berkait dengan berita-berita yang bikin pusing. Tapi apa daya, tiap hari kita dikepung oleh informasi dari berbagai penjuru, di rumah kita berhadapan dengan televisi, di jalan kita mendengar radio, di kantor ada koran dan internet, di warung atau kafe kita mendengar gunjingan. Waduh!

Ya sudah, kita nikmati saja apa yang ada dan tersedia di hadapan kita. Menghindari itu semua, bisa jadi kita akan asing di tengah pergaulan kita sendiri.

Sebuah berita yang menggedor benak dan perasaan saya adalah kabar dari Pekanbaru yang diwartakan oleh Harian Umum Kompas. "Berobat Mahal, Wasis Bunuh Diri karena Keterbatasan Dana", itulah berita di halaman pertama koran terbitan Jumat (7/6/2013).

Disebutkan, Wasis Ramadhan (23), warga Kelurahan Tanjung Rhu, Limapuluh, Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (4/6/2013), mengakhiri hidupnya dengan tragis. Dia bunuh diri menggunakan pisau dapur di rumahnya. Wasis bunuh diri karena keterbatasan dana untuk mengobati penyakit lambungnya yang kronis dan tak kunjung sembuh. Ini sebuah ironi di provinsi yang selama ini dikenal kaya dengan minyak bumi dan gas alam.

Di akhir tulisan, koran itu menulis: keluarganya sempat membawa Wasis ke Rumah Sakit Santa Maria. Akan tetapi, karena biayanya mahal, mereka memulangkannya. Sepulang dari rumah sakit, Suryono dan keluarganya membicarakan dana pengobatan Wasis di ruang tamu. Belum tuntas pembicaraan, Wasis yang masih meringis kesakitan masuk ke dapur. Saat itulah rupanya Wasis nekat mengakhiri hidupnya.

Dan... rupanya bukan cuma Wasis seorang yang mengalami keputusasaan dan kemudian mengakhiri hidupnya dalam sakit yang berkepanjangan dan ketiadaan biaya untuk berobat. Sebelum Wasis ada Muhammad Nurcahyo (22) yang gantung diri di rumahnya di Penjaringan Utara pada 29 Juli 2012 lantaran terus menerus berobat dan tak kunjung sembuh. Disusul Rohmanul Irsandi (23).

Warga Bekasi Utara ini juga mengakhiri hidupnya karena tak bisa berobat. Demikian juga Rubini (43), warga Gunung Kidul yang gantung diri setelah putus asa oleh sakit lambung dan kepala yang berkepanjangan. Tanggal 8 April 2013, Chau Apu (64) terjun ke Sungai Cisadane setelah putus asa akibat mengidap kencing manis bertahun-tahun. Tangal 28 Mei 2013, Sri Hartati (32) menabrakkan diri ke kereta api yang melintas di perbatasan Sleman dan Bantul, disebabkan oleh gangguan jiwa dan pernah dirawat di RS Jiwa Ghrasia, Pakem, Sleman.

Anda bisa bilang, "Ah itu kan cuma sepersekian persen dari jumlah penduduk Indonesia yang ratusan juta jumlahnya." Tapi saya juga bisa menjawab begini, "Jumlah itu baru yang terekspos, barangkali yang tak terberitakan bisa berlipat-lipat jumlahnya."

Seperti para penderita HIV/AIDS, seperti jumlah pengangguran, jumlah warga miskin, di permukaan nampak baik-baik saja, tapi di balik yang nampak di permukaan, bisa jadi semacam gunung es.

Selain yang ditulis Kompas, media lain juga menulis, Suriningsih (33), warga Dusun Worawari, Desa Sukoreno, Kecamatan Sentolo, yang nekat bunuh diri dengan menabrakkan diri ke kereta api di Dusun Mertan, Sukoreno, Jumat (31/5/2013) dini hari karena tak tahan menderita penyakit komplikasi.

Tahun 2005, Benedetto Saraceno, Direktur Departemen Kesehatan Mental dan Penyalahgunaan Substansi WHO, menyatakan, kematian rata-rata karena bunuh diri di Indonesia 24 kematian per 100.000 penduduk. Jika penduduk Indonesia 220 juta jiwa, diperoleh angka 50.000 kasus kematian akibat bunuh diri. Sebagian di antaranya, tentu mereka yang tak sanggup berobat ke rumah sakit.

Ah ironi benar hidup di negeri ini. Sebagian orang mati dalam kesia-siaan, sebagian lainnya foya-foya "bermandikan uang". Lihatlah di infotainment, betapa mereka yang menjalani hidup dengan "bercanda", justru beroleh kelimpahan harta, sehingga mampu membangun rumah bak istana dan berobat ke rumah sakit dengan pelayanan yang prima.

Sebagian orang susah untuk berobat, sebagian lainnya malah berlaku bejat dengan menilap uang rakyat. Padahal di negeri ini, simbol-simbol kebaikan berkibar dengan megahnya. Agama, tempat-tempat ibadah, para pemuka agama, diberi panggung seluas angkasa. Padahal juga, ajaran mengenai kebajikan juga sudah diwariskan oleh nenek moyang kita. Padahal....

Menyimak fakta di atas, nalar saya seperti menabrak tembok. Hmmm... sebelum saya dilanda keputus-asaan, ada baiknya saya cari kawan-kawan saya. Moga-moga mereka bisa saya ajak ngobrol, setidaknya bisa mengurangi gebalau di hati saya.

"Enggak adil bener kehidupan ini ya?" kata saya membuka percakapan dengan Juha di sebuah warung kopi di Palmerah.
"Wah, kacau kamu. Berarti kamu menuduh Tuhan juga enggak adil," sela Juha.
"Ah... bukan itu maksudku. Yang enggak adil mungkin juga aku, kamu, orang-orang pemerintahan, anggota dewan, atau siapapun, yang membiarkan orang-orang mati tanpa daya lantaran tak mampu berobat ke rumah sakit."
"Nah, itu lebih rasional. Tapi bukankah tiap manusia sudah punya suratannya masing-masing?"
"Ah elo, jangan dibawa ke ranah takdir dulu dong, enggak seru jadinya obrolan kita."
"Habis bagaimana, aku percaya bahwa apa yang kita peroleh hari ini adalah buah dari perjalanan yang kita lalui."
"Tapi orang lain juga turut andil atas apa yang kita peroleh hari ini. Coba kalau kamu nggak peduli kepadaku, mungkin hari ini aku sedang sakit kepala memikirkan ini semua. Tapi karena kamu peduli kepadaku dan mau aku ajak ngobrol, jadi bebanku lebih ringan."
"Maksudmu, banyak orang yang nggak peduli dengan orang lain, sehingga membiarkan mereka yang tak mampu berobat ke rumah sakit jatuh dalam keputus-asaan?"
"Pinter kamu."
"Tapi sebentar... bagaimana mau membantu, jangan-jangan para tetangga mereka yang putus asa itu juga butuh bantuan."
"Bisa jadi. Makanya, untuk urusan kesehatan harus menjadi tanggungjawab pemerintah, terutama buat mereka yang tidak mampu."
"Tapi kan sudah banyak daerah yang menggratiskan biaya berobat kepada orang-orang tak mampu, seperti Jakarta, Tangerang, ..."
"Indonesia kan bukan cuma Jakarta dan Tangerang."
"Itu tandanya kemampuan tiap daerah belum setara."
"Mustinya bukan cuma urusan daerah, tapi juga urusan pemerintah pusat."
"Pusat sudah menganggarkan cukup banyak untuk kesehatan?"
"Emang dianggarkan berapa?"
"Bentar, aku buka contekan dulu."

Juha pun mulai membuka contekan. Dia bilang, anggaran kesehatan sebesar Rp 31,2 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2013. Jumlah tersebut belum mencapai 5 persen dari total RAPBN sebesar Rp 1.657,9 triliun. Undang-Undang Nomor 36 tentang Kesehatan mengamanatkan anggaran kesehatan minimal 5 persen dari APBN di luar gaji. Anggaran kesehatan baru sekitar 1,9 persen dari RAPBN 2013 dan 0,4 persen terhadap pendapatan domestik bruto.

"Masih jauh dari ideal ya?" kata saya.
"Sudah jauh dari ideal, anggarannya suka disunat pula," ujar Juha.
"Emang kamu punya contohnya?"
"Menurut Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Sleman M. Anshar Wahyuddin, pada 2009, dalam satu sampel transaksi jual-beli obat satu hari saja, kerugian negara ditaksir mencapai Rp 20 juta. Padahal, hampir setiap hari ada transaksi jual-beli obat."
"Tapi dibanding kasus Hambalang atau Bank Century, itu masih kalah jauh, itu kelas teri."
"Mau yang kakap? Dalam proyek alat kesehatan anggaran 2009, Badan Reserse dan Kriminal telah menetapkan dua tersangka, pejabat pembuat komitmen Syamsul Bachri dan kuasa pengguna anggaran Zulkarnain Kasim. Keduanya diduga melanggar kewenangan dalam proyek pengadaan alat bantu belajar-mengajar dokter untuk rumah sakit pendidikan dan rumah sakit rujukan. Proyek berbiaya Rp 429 miliar itu diduga telah digelembungkan sehingga negara rugi Rp 163 miliar."
"Wah, wah... raja tega banget sih orang-orang itu, sudah tahu itu untuk urusan kesehatan, masih juga disunat."
"Kepengin contoh lagi?"
"Sudah, sudah. Cukup, ini aja sudah membuat kepalaku mulai pusing, apalagi kalau kamu kasih unjuk kasus lainnya di dunia kesehatan, bisa stres aku."

Entah karena kehausan atau karena mulai dihinggapi stres, saya menenggak minuman mineral beberapa teguk. Dada rada lega, begitu juga mata tambah terang. Setelah menghela nafas panjang, saya pun ngedumel sendiri.
"Kenapa kita harus sakit yak?"
"Karena kita pernah sehat," jawab Juha.
“Sehat itu nikmat sedangkan sakit adalah tanda kasih sayang Tuhan kepada kita," lanjut Juha.
"Maksudmu?"
"Nikmat karena kita bisa beribadah lebih maksimal, dan tanda sayang karena dosa sedang digugurkan."
"Teruskan, aku mulai merasai kesejukan di hatiku."
"Kesenangan atau kesusahan merupakan dua ladang yang sama-sama menguntungkan. Bila ia mendapat kesenangan, ia akan bersyukur sehingga kesenangan tersebut terus akan ditambah. Bila ia ditimpa kesusahan, maka ia akan bersabar sehingga dengan kesabarannya itulah, dosa dosanya berguguran."

Mendadak saya seperti melayang di angkasa. Saya masih menyimpan kesedihan, tapi saya juga merasakan kesejukan oleh kata-kata Juha. Saya memang tak pernah mengenal mereka yang mati bunuh diri karena sakit yang tak terobati, tapi saya seperti melihat bayang-bayang wajah mereka bertebaran di mana-mana. Mereka ada di kolong jembatan, di sudut-sudut terminal, pojok-pojok pasar, dan di pelosok-pelosok negeri yang tak tersentuh oleh dokter dan perawat. (LEO/LI)

Sumber: Kompas
Bunuh Diri Karena Sakit Tak Terobati
Leony Li
By Bengkalis Pos
Published: 2013-06-11T18:15:00+07:00
Bunuh Diri Karena Sakit Tak Terobati
4.5 11 reviews
Editor :
Artikel Terkait:
Jangan Lupa Bagikan Ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg

Bengkalis Pos

Tentang Kami

Bengkalis Pos adalah Portal berita sajian khusus untuk pembaca yang kami kutip dari berbagai sumber berita, Masukan Email anda di bawah ini untuk mengikuti berita terbaru kami atau ikuti Facebook dan Twitter kami dengan klik Ikuti dan secara otomatis anda akan mendapatkan Update berita terbaru kami.

Breaking News close button
Back to top

Bengkalis Pos adalah blog berita kutipan dari berbagai sumber, dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain. Jika ada salah silahkan beri kritikan, Anda juga diperbolehkan untuk berkomentar yang tentunya tidak menyinggung SARA.

Bagaimana Pendapat Anda?
 
Copyright © 2014. Bengkalis Pos - All Rights Reserved | Template By Maskolis | Modifikasi By TutorNesia | Proudly powered by Blogger