Advertise

Banyak Peralatan Perang Ditemukan

Bengkalis PosPolisi dengan senjata lengkap patroli di Dusun Tamanjeka, Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Rabu (7/11/2012). Sebanyak 200 personel gabungan TNI Polri selama tiga hari menyisir pegunungan Kalora untuk mencari sejumlah terduga teroris dan bahan-bahan peledak yang diduga masih disembunyikan.

Bengkalis Pos
~ Poso, Sulawesi Tengah, terus menyimpan bara yang tak berkesudahan. Daerah itu seolah menjadi sarang kelompok radikal. Terbukti, dari penyisiran polisi di Gunung Koroncopu, Kecamatan Poso Pesisir Utara, ditemukan sejumlah peralatan perang, seperti ratusan amunisi dan puluhan bom rakitan dalam berbagai ukuran dan jenis.

Ada pula senjata api organik dan rakitan, alat pengintai, penunjuk arah, alat komunikasi, dan puluhan pakaian loreng yang mirip pakaian dinas TNI. ”Barang-barang ini kami temukan dalam penyisiran selama beberapa pekan di Gunung Koroncopu. Ini milik kelompok garis keras yang melakukan pelatihan dan bersembunyi di Gunung Koroncopu. Barang ini jadi bukti keberadaan dan aktivitas kelompok ini. Barang-barang seperti ini lazim digunakan dalam perang atau latihan perang,” kata Kepala Kepolisian Resor Poso Ajun Komisaris Besar Susnadi, Rabu (12/6/2013), di Poso.

Susnadi didampingi Wakil Kepala Polres Poso Komisaris Boegik S dan Dandim 1407 Poso Letkol Inf Bobby Prabowo. Hadir pula Komandan Batalyon Infanteri 714 Sintuwu Maroso, Letkol Inf Trijoko, dan Kepala Kejari Poso Nurtaman.

Sentra di hutan

Penyisiran oleh Resmob Polda Sulteng dan Resmob Den B Poso dilakukan sejak Mei di Gunung Koroncopu. Diduga kelompok garis keras pimpinan Santoso beserta ratusan pengikutnya menjadikan Koroncopu sebagai pusat pelatihan dan persembunyian dari kejaran aparat. Di antara mereka ada buron seperti dilansir polisi sejak Februari.

Di Poso, polisi mengidentifikasi sejumlah wilayah yang kerap dijadikan tempat pelatihan, seperti Gunung Koroncopu, Gunung Biru, dan Desa Malino di perbatasan Poso dan Morowali. Lokasi pegunungan berupa hutan lebat dan akses yang sulit ditembus membuat Gunung Koroncopu dan Gunung Biru strategis untuk tempat berlatih dan bersembunyi. Untuk menuju ke Gunung Biru atau Koroncopu, akses hanya bisa dilalui dengan kendaraan roda dua jenis trail atau motor jenis bebek yang dimodifikasi. Selebihnya hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.

Beberapa waktu lalu, Kompas ikut menyisir ke Gunung Biru di lokasi aparat kepolisian dan TNI menemukan kamp pelatihan. Sebagaimana lokasi perang, di tempat ini terdapat sejumlah bungker untuk bersembunyi dan mengintai. Ada pula tulisan dan tanda-tanda semacam sandi atau kode di sejumlah pohon. Sebagian ditulis dalam bahasa Arab.

Di hutan ini juga terdapat sejumlah pondok peristirahatan yang dilengkapi bahan makanan dan obat-obatan, sekaligus persembunyian persenjataan. Diduga simpatisan kelompok yang berada di desa sekitar pegunungan itu mengirim logistik dan menyimpannya di pondok di hutan.

”Nudin yang tewas tertembak adalah di antara orang yang rutin mengantar logistik untuk kelompok ini. Dalam catatan Densus, aliran dana yang dikirim kelompok Abu Roban ke Poso melalui Nudin,” ujar Susnadi.

Aktor dari luar
Terkait temuan pakaian loreng mirip pakaian dinas TNI, Bobby Prabowo mengatakan, hal itu tidak ada kaitannya dengan TNI. Pakaian seperti itu banyak dijual. Mereka menggunakannya untuk menyamar dan bersembunyi. ”Tidak ada kaitan dengan TNI. Makanya, saat ini kami memperketat pembelian atau pengeluaran pakaian dinas. Harus menunjukkan kartu anggota untuk membeli,” ujarnya.

Peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian UGM, M Najib Azca, menilai, karakteristik konflik Poso berupa keterlibatan mendalam aktor dari luar. Banyak orang luar berdatangan guna terlibat saat konflik pecah di Poso. Selain menjadi pelaku kekerasan, para pendatang juga merekrut orang lokal untuk bergabung dalam kelompok mereka. ”Sebagian kelompok itu masih bertahan sampai sekarang. Mereka menganggap konflik tak selesai. Elemen-elemen itu menjadi aktor konflik sekarang,” ujarnya.

Soal kepastian pelaku bom bunuh diri, hingga kini polisi masih menunggu hasil tes DNA yang dilakukan di Jakarta. Sejauh ini, pelaku mengarah kepada W, warga Desa Labuan, Lage Poso. Ayah W, yakni Il, mengakui foto yang disebar polisi mirip anaknya yang menghilang delapan bulan lalu. Untuk membuktikan pengakuan Il, polisi mengambil sampelnya dan sampel W.

Serahkan data

Di Kendari, Polres Parepare, Sulawesi Selatan, menyerahkan berbagai data terkait temuan 4.000 detonator peledak kepada Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri. Densus 88 akan menganalisis apakah detonator-detonator itu memiliki kaitan dengan aksi teror atau tidak

”Kami sudah mengirimkan berbagai data dan barang bukti kepada Densus 88. Kini mereka sedang menganalisisnya,” ujar Kepala Polres Parepare Ajun Komisaris Besar Himawan Sugeha.

Polres Parepare telah menahan tersangka R alias HJ selaku pemilik 4.000 detonator itu. R sehari-hari berprofesi sebagai pedagang kelontong di kota itu. ”Yang bersangkutan akan dikenai pasal kepemilikan bahan peledak ilegal yang diatur dalam UU Nomor 12 Tahun 1951,” ujarnya.

Polres Parepare mengungkap pengiriman 4.000 detonator itu pada Jumat (7/6). Bahan peledak itu diangkut menggunakan KM Thalia dari Nunukan, Kalimantan Timur, dengan tujuan Pelabuhan Parepare. Barang dikemas dalam 40 dus. Setiap dus berisi 100 buah, lalu dicampur dengan barang kelontong. Dari Pelabuhan Parepare, barang dikirimkan ke rumah R. ”Barang ini berasal dari Malaysia,” kata Himawan. Dari pengakuan R, detonator itu pesanan HM untuk menangkap ikan. HM yang tinggal di Kota Makassar itu diketahui sebagai pengusaha ikan. (LEO/LI)

Sumber: Kompas
Bengkalis PosPolisi dengan senjata lengkap patroli di Dusun Tamanjeka, Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Rabu (7/11/2012). Sebanyak 200 personel gabungan TNI Polri selama tiga hari menyisir pegunungan Kalora untuk mencari sejumlah terduga teroris dan bahan-bahan peledak yang diduga masih disembunyikan.

Bengkalis Pos
~ Poso, Sulawesi Tengah, terus menyimpan bara yang tak berkesudahan. Daerah itu seolah menjadi sarang kelompok radikal. Terbukti, dari penyisiran polisi di Gunung Koroncopu, Kecamatan Poso Pesisir Utara, ditemukan sejumlah peralatan perang, seperti ratusan amunisi dan puluhan bom rakitan dalam berbagai ukuran dan jenis.

Ada pula senjata api organik dan rakitan, alat pengintai, penunjuk arah, alat komunikasi, dan puluhan pakaian loreng yang mirip pakaian dinas TNI. ”Barang-barang ini kami temukan dalam penyisiran selama beberapa pekan di Gunung Koroncopu. Ini milik kelompok garis keras yang melakukan pelatihan dan bersembunyi di Gunung Koroncopu. Barang ini jadi bukti keberadaan dan aktivitas kelompok ini. Barang-barang seperti ini lazim digunakan dalam perang atau latihan perang,” kata Kepala Kepolisian Resor Poso Ajun Komisaris Besar Susnadi, Rabu (12/6/2013), di Poso.

Susnadi didampingi Wakil Kepala Polres Poso Komisaris Boegik S dan Dandim 1407 Poso Letkol Inf Bobby Prabowo. Hadir pula Komandan Batalyon Infanteri 714 Sintuwu Maroso, Letkol Inf Trijoko, dan Kepala Kejari Poso Nurtaman.

Sentra di hutan

Penyisiran oleh Resmob Polda Sulteng dan Resmob Den B Poso dilakukan sejak Mei di Gunung Koroncopu. Diduga kelompok garis keras pimpinan Santoso beserta ratusan pengikutnya menjadikan Koroncopu sebagai pusat pelatihan dan persembunyian dari kejaran aparat. Di antara mereka ada buron seperti dilansir polisi sejak Februari.

Di Poso, polisi mengidentifikasi sejumlah wilayah yang kerap dijadikan tempat pelatihan, seperti Gunung Koroncopu, Gunung Biru, dan Desa Malino di perbatasan Poso dan Morowali. Lokasi pegunungan berupa hutan lebat dan akses yang sulit ditembus membuat Gunung Koroncopu dan Gunung Biru strategis untuk tempat berlatih dan bersembunyi. Untuk menuju ke Gunung Biru atau Koroncopu, akses hanya bisa dilalui dengan kendaraan roda dua jenis trail atau motor jenis bebek yang dimodifikasi. Selebihnya hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.

Beberapa waktu lalu, Kompas ikut menyisir ke Gunung Biru di lokasi aparat kepolisian dan TNI menemukan kamp pelatihan. Sebagaimana lokasi perang, di tempat ini terdapat sejumlah bungker untuk bersembunyi dan mengintai. Ada pula tulisan dan tanda-tanda semacam sandi atau kode di sejumlah pohon. Sebagian ditulis dalam bahasa Arab.

Di hutan ini juga terdapat sejumlah pondok peristirahatan yang dilengkapi bahan makanan dan obat-obatan, sekaligus persembunyian persenjataan. Diduga simpatisan kelompok yang berada di desa sekitar pegunungan itu mengirim logistik dan menyimpannya di pondok di hutan.

”Nudin yang tewas tertembak adalah di antara orang yang rutin mengantar logistik untuk kelompok ini. Dalam catatan Densus, aliran dana yang dikirim kelompok Abu Roban ke Poso melalui Nudin,” ujar Susnadi.

Aktor dari luar
Terkait temuan pakaian loreng mirip pakaian dinas TNI, Bobby Prabowo mengatakan, hal itu tidak ada kaitannya dengan TNI. Pakaian seperti itu banyak dijual. Mereka menggunakannya untuk menyamar dan bersembunyi. ”Tidak ada kaitan dengan TNI. Makanya, saat ini kami memperketat pembelian atau pengeluaran pakaian dinas. Harus menunjukkan kartu anggota untuk membeli,” ujarnya.

Peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian UGM, M Najib Azca, menilai, karakteristik konflik Poso berupa keterlibatan mendalam aktor dari luar. Banyak orang luar berdatangan guna terlibat saat konflik pecah di Poso. Selain menjadi pelaku kekerasan, para pendatang juga merekrut orang lokal untuk bergabung dalam kelompok mereka. ”Sebagian kelompok itu masih bertahan sampai sekarang. Mereka menganggap konflik tak selesai. Elemen-elemen itu menjadi aktor konflik sekarang,” ujarnya.

Soal kepastian pelaku bom bunuh diri, hingga kini polisi masih menunggu hasil tes DNA yang dilakukan di Jakarta. Sejauh ini, pelaku mengarah kepada W, warga Desa Labuan, Lage Poso. Ayah W, yakni Il, mengakui foto yang disebar polisi mirip anaknya yang menghilang delapan bulan lalu. Untuk membuktikan pengakuan Il, polisi mengambil sampelnya dan sampel W.

Serahkan data

Di Kendari, Polres Parepare, Sulawesi Selatan, menyerahkan berbagai data terkait temuan 4.000 detonator peledak kepada Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri. Densus 88 akan menganalisis apakah detonator-detonator itu memiliki kaitan dengan aksi teror atau tidak

”Kami sudah mengirimkan berbagai data dan barang bukti kepada Densus 88. Kini mereka sedang menganalisisnya,” ujar Kepala Polres Parepare Ajun Komisaris Besar Himawan Sugeha.

Polres Parepare telah menahan tersangka R alias HJ selaku pemilik 4.000 detonator itu. R sehari-hari berprofesi sebagai pedagang kelontong di kota itu. ”Yang bersangkutan akan dikenai pasal kepemilikan bahan peledak ilegal yang diatur dalam UU Nomor 12 Tahun 1951,” ujarnya.

Polres Parepare mengungkap pengiriman 4.000 detonator itu pada Jumat (7/6). Bahan peledak itu diangkut menggunakan KM Thalia dari Nunukan, Kalimantan Timur, dengan tujuan Pelabuhan Parepare. Barang dikemas dalam 40 dus. Setiap dus berisi 100 buah, lalu dicampur dengan barang kelontong. Dari Pelabuhan Parepare, barang dikirimkan ke rumah R. ”Barang ini berasal dari Malaysia,” kata Himawan. Dari pengakuan R, detonator itu pesanan HM untuk menangkap ikan. HM yang tinggal di Kota Makassar itu diketahui sebagai pengusaha ikan. (LEO/LI)

Sumber: Kompas

Bengkalis Pos adalah blog berita kutipan dari berbagai sumber, dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain. Jika ada salah silahkan beri kritikan, Anda juga diperbolehkan untuk berkomentar yang tentunya tidak menyinggung SARA.

Bagaimana Pendapat Anda?
 
Copyright © 2015. Bengkalis Pos - All Rights Reserved | Template By Maskolis | Modifikasi By TutorNesia | Proudly powered by Blogger