Advertise

Minta Pulang, Warga Syiah Sampang 16 Hari Gowes ke Jakarta

Bengkalis Pos
Bengkalis Pos
~ "Kami tidak ada pilihan lagi selain minta pulang. Kalau masih tidak dikasih, kita akan tetap pulang sebelum puasa. Kita mau puasa di kampung kami. Tidak ada kata relokasi," kata Ahmad Rosid (24) di depan Istana Presiden, Jakarta, Minggu (16/6/2013) siang.

Rosid adalah salah satu warga Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur, yang menjadi korban penyerangan pada Agustus 2012. Demi perjuangan untuk bisa kembali ke kampung halaman di Desa Bluurandi, Kecamatan Karang Penang, Sampang, Rosyid dan sembilan korban lainnya bersepeda dari tempat pengungsian di gelanggang olahraga (GOR) di Sampang pada 1 Juni 2013 hingga berakhir di depan Istana Jakarta siang tadi.

Selama di jalan, mereka didampingi jaringan aktivis, salah satunya dari Kontras. Di mulai pukul 08.00, lima orang bersepeda beriringan. Lima orang lainnya melanjutkan perjalanan setelah istirahat di siang hari. Sorenya, gowes berhenti. Begitu seterusnya hingga Jakarta. "Malamnya kita tinggal di rumah teman-teman jaringan. Sekali kita tidur di POM bensin," kata Fatkhulkhoir dari Kontras Surabaya yang ikut mendampingi mereka.

Saat ini, sebanyak 165 keluarga masih bertahan di GOR. Awalnya, ada 322 keluarga yang mengungsi. Lama kelamaan, satu per satu keluarga memilih keluar dari GOR dan tinggal di rumah sanak saudara.

Rosid bercerita, kondisi di GOR sangat memprihatinkan. Semua pengungsi hanya tidur di alas seadanya tanpa kasur. Paling tidak mengenakkan, tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan di pengungsian. Terlebih lagi, kini tidak ada pendidikan yang diterima anak-anak. "Pendidikan buat anak-anak ada cuma dua bulan saja. Setelah itu tidak ada lagi. Di GOR kita tidak ada kerjaan. Di kampung kita bisa tani di lahan sendiri. Anak-anak bisa sekolah," kata Rosid.

Rosid dan warga lainnya mempertanyakan mengapa belum diperbolehkan pulang. Padahal, menurut mereka, sudah tidak ada masalah di kampungnya. Rosid mengaku sempat tiga kali pulang ke rumah. Pertama, ia menginap selama seminggu, ke dua 15 hari, dan terakhir 6 hari.

Para tetangga, tambah Rosid, semua menerima. Bahkan, jika ada warga yang sakit di GOR, para tetangga di kampung datang menjenguk. "Jadi tidak ada apa-apa. Tapi kalau kita ketahuan pulang, disuruh balik lagi ke GOR sama polisi," ucap Rosid.

Mereka mengeluhkan perhatian pemerintah daerah. Pemerintah kabupaten menghentikan bantuan sejak Mei 2013. Setelah itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan dana Rp 750.000 per bulan untuk satu keluarga. "Tidak cukup uang segitu. Sisanya kita dibantu tetangga di kampung. Kita sudah berkali-kali minta pulang pemerintah. Tapi tidak ada jawaban. Pemerintahnya sudah tuli," ujar Rosid. (LEO/LI)

Sumber: Kompas
Bengkalis Pos
Bengkalis Pos
~ "Kami tidak ada pilihan lagi selain minta pulang. Kalau masih tidak dikasih, kita akan tetap pulang sebelum puasa. Kita mau puasa di kampung kami. Tidak ada kata relokasi," kata Ahmad Rosid (24) di depan Istana Presiden, Jakarta, Minggu (16/6/2013) siang.

Rosid adalah salah satu warga Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur, yang menjadi korban penyerangan pada Agustus 2012. Demi perjuangan untuk bisa kembali ke kampung halaman di Desa Bluurandi, Kecamatan Karang Penang, Sampang, Rosyid dan sembilan korban lainnya bersepeda dari tempat pengungsian di gelanggang olahraga (GOR) di Sampang pada 1 Juni 2013 hingga berakhir di depan Istana Jakarta siang tadi.

Selama di jalan, mereka didampingi jaringan aktivis, salah satunya dari Kontras. Di mulai pukul 08.00, lima orang bersepeda beriringan. Lima orang lainnya melanjutkan perjalanan setelah istirahat di siang hari. Sorenya, gowes berhenti. Begitu seterusnya hingga Jakarta. "Malamnya kita tinggal di rumah teman-teman jaringan. Sekali kita tidur di POM bensin," kata Fatkhulkhoir dari Kontras Surabaya yang ikut mendampingi mereka.

Saat ini, sebanyak 165 keluarga masih bertahan di GOR. Awalnya, ada 322 keluarga yang mengungsi. Lama kelamaan, satu per satu keluarga memilih keluar dari GOR dan tinggal di rumah sanak saudara.

Rosid bercerita, kondisi di GOR sangat memprihatinkan. Semua pengungsi hanya tidur di alas seadanya tanpa kasur. Paling tidak mengenakkan, tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan di pengungsian. Terlebih lagi, kini tidak ada pendidikan yang diterima anak-anak. "Pendidikan buat anak-anak ada cuma dua bulan saja. Setelah itu tidak ada lagi. Di GOR kita tidak ada kerjaan. Di kampung kita bisa tani di lahan sendiri. Anak-anak bisa sekolah," kata Rosid.

Rosid dan warga lainnya mempertanyakan mengapa belum diperbolehkan pulang. Padahal, menurut mereka, sudah tidak ada masalah di kampungnya. Rosid mengaku sempat tiga kali pulang ke rumah. Pertama, ia menginap selama seminggu, ke dua 15 hari, dan terakhir 6 hari.

Para tetangga, tambah Rosid, semua menerima. Bahkan, jika ada warga yang sakit di GOR, para tetangga di kampung datang menjenguk. "Jadi tidak ada apa-apa. Tapi kalau kita ketahuan pulang, disuruh balik lagi ke GOR sama polisi," ucap Rosid.

Mereka mengeluhkan perhatian pemerintah daerah. Pemerintah kabupaten menghentikan bantuan sejak Mei 2013. Setelah itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan dana Rp 750.000 per bulan untuk satu keluarga. "Tidak cukup uang segitu. Sisanya kita dibantu tetangga di kampung. Kita sudah berkali-kali minta pulang pemerintah. Tapi tidak ada jawaban. Pemerintahnya sudah tuli," ujar Rosid. (LEO/LI)

Sumber: Kompas

Bengkalis Pos adalah blog berita kutipan dari berbagai sumber, dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain. Jika ada salah silahkan beri kritikan, Anda juga diperbolehkan untuk berkomentar yang tentunya tidak menyinggung SARA.

Bagaimana Pendapat Anda?
 
Copyright © 2015. Bengkalis Pos - All Rights Reserved | Template By Maskolis | Modifikasi By TutorNesia | Proudly powered by Blogger