Advertise

10 Pembalap Indonesia Akan Belajar Ilmu di Jepang

Bengkalis PosManajer Motorsport Yamaha Indonesia, Supriyanto (kiri), memberikan pengarahan kepada para pebalap Yamaha Indonesia dalam pertemuan menjelang latihan bebas pertama Yamaha ASEAN Cup Race di Sirkuit SM City Santa Rosa Laguna, Filipina, Kamis (6/12/2012).

Bengkalis Pos
~ Yamaha sangat serius mempersiapkan langkah menuju pentas dunia, seperti tagline-nya saat ini. Demi membawa para pebalap binaannya tampil di level internasional, Yamaha tengah melakukan seleksi secara "tersembunyi" untuk memilih 10 pebalap terbaik yang akan menimba ilmu di Jepang.

"Kami akan memilih 10 orang untuk go international. Rencana itu akan diwujudkan pada semester kedua tahun 2013 ini," ujar Manajer Motorsport Yamaha Indonesia, Supriyanto, Minggu (16/6/2013), seusai seri ketiga Yamaha Cup Race di Sirkuit Alun-alun Kajen, Pekalongan.

Mereka yang akan dikirim, tambah Supriyanto, diseleksi dari berbagai ajang, dengan usia di antara 15 - 22 tahun. Pasalnya, para pebalap tersebut diproyeksi untuk terjun ke kelas yang lebih bergengsi, yaitu Moto3, Moto2, atau bahkan kelas yang paling digemari para pecinta motorsport di seluruh penjuru dunia, MotoGP.

Rencana tersebut bukan sekadar angan-angan belaka karena saat ini Yamaha Indonesia sudah ada hubungan dengan Tech 3 sehingga peluang untuk mengorbitkan para pebalap berbakat dari Tanah Air sangat terbuka lebar. Apalagi, perkembangan olahraga motorsport di kawasan Asia dinilai lebih prospektif dibandingkan dengan Eropa, yang masih terpuruk sebagai imbas krisis ekonomi global.

"Perkembangan motorsport di Asia lebih bagus dibandingkan dengan Eropa. Lebih khusus lagi di Indonesia, yang dinilai memiliki pasaran yang jauh lebih bagus sehingga peluang menuju ke sana (MotoGP) pun besar. Akan tetapi, semua itu harus butuh proses dan kami terus melihat dan melakukan evaluasi atas apa yang terjadi selama ini," tambah Supriyanto.

Menurutnya, target membawa pebalap Indonesia ke pentas dunia itu dalam kurun waktu tiga tahun ke depan. Karenanya, mulai dari Yamaha Cup Race (YCR) tahun 2013 ini, mental dan sikap para pebalap sudah mulai ditempa, termasuk manajemen tim.

"Dari hasil pengamatan dan evaluasi saat ini, tampaknya pengalaman para pebalap Indonesia masih kurang sehingga perlu ditingkatkan. Seiring peningkatan pengalaman, mental dan sikap para pebalap serta manajemen tim perlu ditempa," jelas Supriyanto.

Pernyataan Supriyanto ini merujuk kepada dua pebalap yang dulu pernah bernaung di bawah bendera Yamaha Indonesia, yaitu Doni Tata dan Rafid Topan, yang kini tampil di Moto2. Kedua pebalap tersebut kini tak lagi bersama Yamaha, setelah memutuskan untuk menerima pinangan tim lain yang membawa mereka ke kelas di bawah MotoGP tersebut.

Memang, sejak seri perdana YCR musim ini, para pebalap sudah dibiasakan melakukan jumpa pers SEusai balapan. Ini dilakukan agar mereka (pebalap) mulai terbiasa berbicara dengan baik di depan umum. Tak hanya itu, paddock pun ditata dengan rapi karena ada kriteria penilaian tersendiri sehingga pemandangannya jauh berbeda dibandingkan dengan penyelenggaraan pada tahun-tahun sebelumnya.

Perlu sirkuit memadai di Indonesia


Di tengah keinginan untuk membawa para pebalap Tanah Air ke pentas dunia, ada satu kendala yang tampaknya menjadi persoalan nasional, yaitu sirkuit yang memadai. Pasalnya, di Indonesia belum ada trek permanen yang memenuhi standar internasional, termasuk Sentul, yang selama ini dinilai sebagai yang terbaik di Tanah Air.

"Kami berusaha mendorong agar sedapat mungkin di Indonesia ada sirkuit yang memadai sehingga para pebalap Indonesia terbiasa," tambah Supriyanto. (LEO/LI)
Bengkalis PosManajer Motorsport Yamaha Indonesia, Supriyanto (kiri), memberikan pengarahan kepada para pebalap Yamaha Indonesia dalam pertemuan menjelang latihan bebas pertama Yamaha ASEAN Cup Race di Sirkuit SM City Santa Rosa Laguna, Filipina, Kamis (6/12/2012).

Bengkalis Pos
~ Yamaha sangat serius mempersiapkan langkah menuju pentas dunia, seperti tagline-nya saat ini. Demi membawa para pebalap binaannya tampil di level internasional, Yamaha tengah melakukan seleksi secara "tersembunyi" untuk memilih 10 pebalap terbaik yang akan menimba ilmu di Jepang.

"Kami akan memilih 10 orang untuk go international. Rencana itu akan diwujudkan pada semester kedua tahun 2013 ini," ujar Manajer Motorsport Yamaha Indonesia, Supriyanto, Minggu (16/6/2013), seusai seri ketiga Yamaha Cup Race di Sirkuit Alun-alun Kajen, Pekalongan.

Mereka yang akan dikirim, tambah Supriyanto, diseleksi dari berbagai ajang, dengan usia di antara 15 - 22 tahun. Pasalnya, para pebalap tersebut diproyeksi untuk terjun ke kelas yang lebih bergengsi, yaitu Moto3, Moto2, atau bahkan kelas yang paling digemari para pecinta motorsport di seluruh penjuru dunia, MotoGP.

Rencana tersebut bukan sekadar angan-angan belaka karena saat ini Yamaha Indonesia sudah ada hubungan dengan Tech 3 sehingga peluang untuk mengorbitkan para pebalap berbakat dari Tanah Air sangat terbuka lebar. Apalagi, perkembangan olahraga motorsport di kawasan Asia dinilai lebih prospektif dibandingkan dengan Eropa, yang masih terpuruk sebagai imbas krisis ekonomi global.

"Perkembangan motorsport di Asia lebih bagus dibandingkan dengan Eropa. Lebih khusus lagi di Indonesia, yang dinilai memiliki pasaran yang jauh lebih bagus sehingga peluang menuju ke sana (MotoGP) pun besar. Akan tetapi, semua itu harus butuh proses dan kami terus melihat dan melakukan evaluasi atas apa yang terjadi selama ini," tambah Supriyanto.

Menurutnya, target membawa pebalap Indonesia ke pentas dunia itu dalam kurun waktu tiga tahun ke depan. Karenanya, mulai dari Yamaha Cup Race (YCR) tahun 2013 ini, mental dan sikap para pebalap sudah mulai ditempa, termasuk manajemen tim.

"Dari hasil pengamatan dan evaluasi saat ini, tampaknya pengalaman para pebalap Indonesia masih kurang sehingga perlu ditingkatkan. Seiring peningkatan pengalaman, mental dan sikap para pebalap serta manajemen tim perlu ditempa," jelas Supriyanto.

Pernyataan Supriyanto ini merujuk kepada dua pebalap yang dulu pernah bernaung di bawah bendera Yamaha Indonesia, yaitu Doni Tata dan Rafid Topan, yang kini tampil di Moto2. Kedua pebalap tersebut kini tak lagi bersama Yamaha, setelah memutuskan untuk menerima pinangan tim lain yang membawa mereka ke kelas di bawah MotoGP tersebut.

Memang, sejak seri perdana YCR musim ini, para pebalap sudah dibiasakan melakukan jumpa pers SEusai balapan. Ini dilakukan agar mereka (pebalap) mulai terbiasa berbicara dengan baik di depan umum. Tak hanya itu, paddock pun ditata dengan rapi karena ada kriteria penilaian tersendiri sehingga pemandangannya jauh berbeda dibandingkan dengan penyelenggaraan pada tahun-tahun sebelumnya.

Perlu sirkuit memadai di Indonesia


Di tengah keinginan untuk membawa para pebalap Tanah Air ke pentas dunia, ada satu kendala yang tampaknya menjadi persoalan nasional, yaitu sirkuit yang memadai. Pasalnya, di Indonesia belum ada trek permanen yang memenuhi standar internasional, termasuk Sentul, yang selama ini dinilai sebagai yang terbaik di Tanah Air.

"Kami berusaha mendorong agar sedapat mungkin di Indonesia ada sirkuit yang memadai sehingga para pebalap Indonesia terbiasa," tambah Supriyanto. (LEO/LI)

Bengkalis Pos adalah blog berita kutipan dari berbagai sumber, dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain. Jika ada salah silahkan beri kritikan, Anda juga diperbolehkan untuk berkomentar yang tentunya tidak menyinggung SARA.

Bagaimana Pendapat Anda?
 
Copyright © 2015. Bengkalis Pos - All Rights Reserved | Template By Maskolis | Modifikasi By TutorNesia | Proudly powered by Blogger