Advertise

Asap di Riau Makin Parah, Masyarakat Harus Waspada

Bengkalis Pos
Bengkalis Pos
~ Kabut asap di Riau semakin mengkhawatirkan. Selain kualitas udara yang makin memburuk dan berbahaya bagi kesehatan manusia, asap yang berasal dari membakar hutan dan lahan (Karhutla) dengan cakupan luas ini telah mengganggu aktivitas warga.

Tidak hanya aktivitas warga Riau saja, tapi hingga mancanegara, seperti Singapura dan Malaysia. Seperti tahun-tahun sebelumnya, dugaan hutan sengaja dibakar untuk pembukaan lahan oleh perusahaan muncul lagi.

Menteri Negara Lingkungan Hidup (Meneg LH) Balthasar Kambuaya menyatakan asap tebal di wilayah Provinsi Kepri, Singapura dan daerah lainnya berasal dari kebakaran hutan di daerah Riau, Palembang dan wilayah lain di Sumatera.

Ia mengungkapkan, ada indikasi asap ini berasal dari hutan yang dibakar oleh perusahaan yang hendak membuka lahan baru. Bahkan ia menduga ada beberapa perusahaan milik Malaysia yang melakukan pembakaran. "Ada dugaan perusahaan Malaysia yang ingin buka kebun sawit di Riau yang melakukan pembakaran. Makanya kita akan terjun langsung ke sana (Riau, red) memastikannya," katanya saat melakukan kunjungan kerja ke Batam, Kepri, Rabu (19/8).

Balthasar mengaku keluhan asap tebal ini juga dikeluhkan oleh Singapura dan Malaysia. "Saya dan Menteri Lingkungan Hidup Singapura sudah bertemu terkait hal ini. Tetapi mereka tidak terlalu mempersoalkannya. Mereka maklum asap sampai ke sana karena pengaruh angin." katanya. Ia mengatakan akan memerintahkan anggotanya untuk turun langsung ke lokasi titik api untuk melihat kejadian yang sebenarnya.

Terkait dugaan perusahaan membakar hutan untuk membuka lahan, Kapolda Riau Brigjen Pol Drs Condro Kirono SH MHum memberikan warning (peringatan) bahwa pihak-pihak yang sengaja membakar lahan bisa dipidana.

"Masalah ini sudah menjadi perhatian. Kita imbau masyarakat agar tidak melanggar aturan dengan membuka lahan dengan membakar, karena dampaknya meluas pada masyarakat lain," kata Kapolda Condro Kirono kepada wartawan, kemarin.

Kualitas Udara Membahayakan


Sementara itu, akibat kabut asap ini kondisi udara sudah sampai kondisi membahayakan. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Provinsi Riau Zainal Arifin. Ia mengaku sudah mendapat laporan dari beberapa daerah terkait kondisi asap yang cukup mengkhawatirkan. "Kita sudah buat edaran untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah. Kalau terpaksa, wajib menggunakan masker. Untuk pelayanan dasar harus dapat mengantisipasi kemungkinan meningkatnya kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut, red)," ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan kondisi kabut asap di Riau sudah menarik perhatian pusat. Untuk itu, Diskes Riau sudah memberikan laporan ke Dirjen Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungn Kemenkes Ri. "Kondisi udara di Riau memang sudah membahayakan. Sejumlah daerah sudah meminta bantuan masker. Misalnya Bengkalis 3.000, Pelalawan ada minta 2.000. Yang lain masih mungkin ada stok maskernya," ungkap mantan Humas RSUD Arifin Achmad itu.

Sementara saat ditanya daerah yang sudah sampai tingkat membahayakan, ia menyebut Kabupaten Bengkalis, Dumai, Rokan Hilir (Rohil), Pelalawan dan Indragiri Hulu (Inhu). Salah satu indikatornya adalah jarak pandang sudah mulai terganggu. Dari Dinas Kesehatan diketahui standarisasi Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) bervariasi. Untuk diketahui ISPU di bawah 50 tergolong baik, antara 51-100 tergolong sedang, 101-299 tidak sehat, 300-399 berbahaya dan di atas 400 sangat berbahaya.

Hasil pengukuran alat ISPU PT Chevron Dumai, kualitas udara mencapai 400 PSI dan tergolong sangat berbahaya. "Udara Dumai sudah masuk kategori sangat berbahaya. Untuk itu, kita imbau masyarakat agar mewaspadai asap ini karena sangat mengganggu kesehatan," kata Kepala Dinas Kesehatan Dumai Marjoko Santoso.

Sedangkan pengkuran untuk Kota Pekanbaru, kualitas udara masuk di bawah ring 100. Jika melebih ring 100 tersebut maka tidak sehat dan dianjurkan memakai masker. Kepala Labor BLH Kota Pekanbaru Syarial mengatakan selama masih belum melewati ring 100 tersebut, maka kualitas udara masih belum membahayakan bagi kesehatan. "Jika sudah melewati ring 100 baru bisa dikatakan udara sudah sangat buruk," kata Syarial.

Sekolah Libur dan Bandara Terganggu


Dinas Pendidikan Dumai telah memutuskan meliburkan semua aktivitas sekolah di semua tingkatan mulai Rabu (19/6). "Ya, kita putuskan untuk meliburkan sekolah," ujar Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Dumai Drs Syaari MP, Rabu (19/6). Penghentian kegiatan belajar mengajar itu akan dilakukan hingga Jumat (21/6) besok. Sabtu dijadwalkan pelaksanaan pemberian rapor. Setelah itu sekolah memasuki masa liburan semester.

Sementara Kota Pekanbaru dengan kondisi kualitas udara masih sedang, Disdik merasa belum perlu meliburkan sekolah. Kadisdik Kota Pekanbaru Zulfadil menyebutkan, masih menunggu koordinasi dengan Dinas Kesehatan. Jika Diskes menyatakan kondisi tidak bagus untuk kesehatan, maka Disdik hanya bisa menginstruksikan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan saja. "Saat ini, kita hanya minta kepada sekolah mengurangi jam belajar di luar. Soal libur massal menunggu koordinasi Dinas Kesehatan," ujar Zulfadil.

Di sisi lain, dampak dari kabut asap telah menyebabkan pembatalan penerbangan di Bandara Pinang Kampai, Dumai. Dua penerbangan dengan pesawat Pelita Air dan Sky Avition ditiadakan bahkan bandara tidak beroperasi samasekali. Kondisi ini berbeda dengan Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru. Meski kabut asap tebal, belum mengganggu aktivitas bandara.

Airport Duty Manager PT (Persero) Angkasa Pura II Bandara SSK II, Baiquni menyebutkan, penerbangan belum ada pengaruh dengan kabut asap ini, semua beroperasi sesuai dengan jadwal. "Masih normal, semua lancar. Tidak ada penerbangan yang delay," kata Baiquni. Disebutkannya, jarak pandang (visibility) yang ditutup kabut asap di atas 5.000 meter. Artinya, masih aman untuk keselamatan penerbangan. "Baik untuk keberangkatan maupun kedatangan semua tidak ada masalah," jelasnya.

Dua Kapal Roro Nyaris Tabrakan


Sementara kabut asap tebal yang menyelimuti perairan Dumai hampir menyebabkan bertabrakannya dua kapal penyeberangan Roll on-Roll Off (Ro-Ro) KMP Tasik Gemilang rute Bengkalis-Sungai Pakning dengan KMP Swarna Putri di Dermaga Sungai Selari, Kecamatan Bukit Batu, Rabu (19/6) sekitar pukul 08.30 WIB. Insiden akibat tebalnya kabut asap dengan jarak pandang hanya 100 meter.

"Kemungkinan KMP Tasik Gemilang keluar dari dermaga tidak melihat KMP Swarna Putri akibat kabut asap yang tebal dengan jarak pandang beberapa ratus meter," ujar Bambang, salah seorang petugas Adpel Sungai Pakning yang bertugas di Pelabuhan Ro-Ro, Sungai Selari. Untuk menjaga keselamatan pelayaran, Adpel meminta nakhoda kapal ekstra hari-hati, terutama saat keluar dari dermaga. Karena perairan Sungai Pakning-Bengkalis merupakan perairan yang banyak dilewati kapal-kapan dari luar maupun lokal.

Sementara pantauan petugas UPT Polhut Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Dumai, sedikitnya ditemukan enam titik api di sejumlah kawasan. Jumlah itu mengalami penurunan sebab sebelumnya ditemui sebanyak 16 lokasi kebakaran lahan.

Di Tembilahan, satelit NOAA memantau 19 titik hot spot.


Menurut Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Kerusakan Lingkungan BLH Inhil, Ardi Yusuf, terjadi peningkatan jumlah titik panas meski belum terlalu signifikan. Namun diperkiarakan jumlah itu akan terus bertambah. "Kalau tanggal 17 Juni hot spot terdapat 17 titik, satu hari kemudian naik menjadi 19 titik," jelas Ardi, Rabu (19/6).

Sedangkan di Pekanbaru, dari pengamatan Riau Pos, api masih menyala di lahan yang terbakar sejak Ahad (16/6) hingga Rabu (19/6). Kondisi ini terlihat di Jalan Parit Indah RT 05/RW 01 Kelurahan Simpang Tiga Kecamatan Bukti Raya. Sementara lahan yang terbakar di belakang Mall SKA, Kelurahan Delima Kecamatan Tampan juga semakin meluas.

Kondisi tersebut selain sudah mengganggu aktivitas warga, juga menimbulkan kekhawatiran terhadap rumah warga yang hanya dibangun semi permanen. "Kami tidak bisa tidur nyenyak lagi di malam hari. Sebab kami sangat khawatir apabila kebakaran lahan tiba-tiba menjangkau rumah kami di malam hari," ujar Indra (36), warga Jalan Parit Indah RT 05/RW 01 Kelurahan Simpang Tiga Kecamatan Bukti Raya.

Di Jalan Labersa (belakang MTQ) kebakaran lahan masih berlangsung hingga kemarin. Bahkan lahan kosong yang sengaja dibakar tersebut terus meluas. Setidaknya ada beberapa titik yang dibakar di daerah tersebut. Asap tebal bercampur partikel debu masih terasa menyelimuti daerah itu, bahkan asap semakin menyebar terbawa angin hingga di Jalan Sudirman dan Purna MTQ.

Pemprov Kaji Hujan Buatan


Pemprov Riau juga melakukan monitoring beberapa kabupaten/kota yang dilanda kabut asap terutama titik panas yang diterpantau satelit NOAA. "Ini belum masuk ke dalam zona merah atau berbahaya. Makanya kita terus melakukan pencegahan lewat Badan Penanggulangan Provinsi bersama kabupaten/kota," kata Wakil Gubernur Riau HR Mambang Mit di Simpang Lago, kemarin.

Menurut dia, selain monitoring, pihaknya juga menerima laporan dari Badan Penanggulangan Bencana kabupaten/kota terhadap musibah kabut asap tersebut. "Jika perusahaan melakukan pembakaran, akan dilakukan tindakan tegas," kata Mambang. Selain itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau masih mengkaji perlu tidaknya dilakukan hujan buatan. "Kalau memang perlu dilakukan, maka akan kita buat hujan buatan. Sekarang masih dikaji terlebih dahulu," tambahnya.

Senada, Bupati Siak Drs H Syamsuar MSi mengajak masyarakat Salat Istisqa (salat minta hujan). Ini dilakukan agar hujan bisa turun dan kabut asap bisa hilang. Kabut asap dalam beberapa hari ini melanda Siak. Bahkan Pemkab sendiri melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah telah melakukan tindakan pencegahan. "Kejadian ini tak bisa kita hindari, namun upaya pencegahan terus dilakukan," ujar dia.

Wali Kota (Wako) Pekanbaru H Firdaus MT menyatakan prihatin dengan kabut asap menyelimuti Pekanbaru. "Asap ini sudah sangat mengganggu sekali. Untuk bernafas terasa kering di tenggorokan. Berhati-hatilah membakar sampah dan jangan membakar lahan," ungkap Firdaus. (KRP)
Bengkalis Pos
Bengkalis Pos
~ Kabut asap di Riau semakin mengkhawatirkan. Selain kualitas udara yang makin memburuk dan berbahaya bagi kesehatan manusia, asap yang berasal dari membakar hutan dan lahan (Karhutla) dengan cakupan luas ini telah mengganggu aktivitas warga.

Tidak hanya aktivitas warga Riau saja, tapi hingga mancanegara, seperti Singapura dan Malaysia. Seperti tahun-tahun sebelumnya, dugaan hutan sengaja dibakar untuk pembukaan lahan oleh perusahaan muncul lagi.

Menteri Negara Lingkungan Hidup (Meneg LH) Balthasar Kambuaya menyatakan asap tebal di wilayah Provinsi Kepri, Singapura dan daerah lainnya berasal dari kebakaran hutan di daerah Riau, Palembang dan wilayah lain di Sumatera.

Ia mengungkapkan, ada indikasi asap ini berasal dari hutan yang dibakar oleh perusahaan yang hendak membuka lahan baru. Bahkan ia menduga ada beberapa perusahaan milik Malaysia yang melakukan pembakaran. "Ada dugaan perusahaan Malaysia yang ingin buka kebun sawit di Riau yang melakukan pembakaran. Makanya kita akan terjun langsung ke sana (Riau, red) memastikannya," katanya saat melakukan kunjungan kerja ke Batam, Kepri, Rabu (19/8).

Balthasar mengaku keluhan asap tebal ini juga dikeluhkan oleh Singapura dan Malaysia. "Saya dan Menteri Lingkungan Hidup Singapura sudah bertemu terkait hal ini. Tetapi mereka tidak terlalu mempersoalkannya. Mereka maklum asap sampai ke sana karena pengaruh angin." katanya. Ia mengatakan akan memerintahkan anggotanya untuk turun langsung ke lokasi titik api untuk melihat kejadian yang sebenarnya.

Terkait dugaan perusahaan membakar hutan untuk membuka lahan, Kapolda Riau Brigjen Pol Drs Condro Kirono SH MHum memberikan warning (peringatan) bahwa pihak-pihak yang sengaja membakar lahan bisa dipidana.

"Masalah ini sudah menjadi perhatian. Kita imbau masyarakat agar tidak melanggar aturan dengan membuka lahan dengan membakar, karena dampaknya meluas pada masyarakat lain," kata Kapolda Condro Kirono kepada wartawan, kemarin.

Kualitas Udara Membahayakan


Sementara itu, akibat kabut asap ini kondisi udara sudah sampai kondisi membahayakan. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Provinsi Riau Zainal Arifin. Ia mengaku sudah mendapat laporan dari beberapa daerah terkait kondisi asap yang cukup mengkhawatirkan. "Kita sudah buat edaran untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah. Kalau terpaksa, wajib menggunakan masker. Untuk pelayanan dasar harus dapat mengantisipasi kemungkinan meningkatnya kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut, red)," ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan kondisi kabut asap di Riau sudah menarik perhatian pusat. Untuk itu, Diskes Riau sudah memberikan laporan ke Dirjen Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungn Kemenkes Ri. "Kondisi udara di Riau memang sudah membahayakan. Sejumlah daerah sudah meminta bantuan masker. Misalnya Bengkalis 3.000, Pelalawan ada minta 2.000. Yang lain masih mungkin ada stok maskernya," ungkap mantan Humas RSUD Arifin Achmad itu.

Sementara saat ditanya daerah yang sudah sampai tingkat membahayakan, ia menyebut Kabupaten Bengkalis, Dumai, Rokan Hilir (Rohil), Pelalawan dan Indragiri Hulu (Inhu). Salah satu indikatornya adalah jarak pandang sudah mulai terganggu. Dari Dinas Kesehatan diketahui standarisasi Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) bervariasi. Untuk diketahui ISPU di bawah 50 tergolong baik, antara 51-100 tergolong sedang, 101-299 tidak sehat, 300-399 berbahaya dan di atas 400 sangat berbahaya.

Hasil pengukuran alat ISPU PT Chevron Dumai, kualitas udara mencapai 400 PSI dan tergolong sangat berbahaya. "Udara Dumai sudah masuk kategori sangat berbahaya. Untuk itu, kita imbau masyarakat agar mewaspadai asap ini karena sangat mengganggu kesehatan," kata Kepala Dinas Kesehatan Dumai Marjoko Santoso.

Sedangkan pengkuran untuk Kota Pekanbaru, kualitas udara masuk di bawah ring 100. Jika melebih ring 100 tersebut maka tidak sehat dan dianjurkan memakai masker. Kepala Labor BLH Kota Pekanbaru Syarial mengatakan selama masih belum melewati ring 100 tersebut, maka kualitas udara masih belum membahayakan bagi kesehatan. "Jika sudah melewati ring 100 baru bisa dikatakan udara sudah sangat buruk," kata Syarial.

Sekolah Libur dan Bandara Terganggu


Dinas Pendidikan Dumai telah memutuskan meliburkan semua aktivitas sekolah di semua tingkatan mulai Rabu (19/6). "Ya, kita putuskan untuk meliburkan sekolah," ujar Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Dumai Drs Syaari MP, Rabu (19/6). Penghentian kegiatan belajar mengajar itu akan dilakukan hingga Jumat (21/6) besok. Sabtu dijadwalkan pelaksanaan pemberian rapor. Setelah itu sekolah memasuki masa liburan semester.

Sementara Kota Pekanbaru dengan kondisi kualitas udara masih sedang, Disdik merasa belum perlu meliburkan sekolah. Kadisdik Kota Pekanbaru Zulfadil menyebutkan, masih menunggu koordinasi dengan Dinas Kesehatan. Jika Diskes menyatakan kondisi tidak bagus untuk kesehatan, maka Disdik hanya bisa menginstruksikan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan saja. "Saat ini, kita hanya minta kepada sekolah mengurangi jam belajar di luar. Soal libur massal menunggu koordinasi Dinas Kesehatan," ujar Zulfadil.

Di sisi lain, dampak dari kabut asap telah menyebabkan pembatalan penerbangan di Bandara Pinang Kampai, Dumai. Dua penerbangan dengan pesawat Pelita Air dan Sky Avition ditiadakan bahkan bandara tidak beroperasi samasekali. Kondisi ini berbeda dengan Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru. Meski kabut asap tebal, belum mengganggu aktivitas bandara.

Airport Duty Manager PT (Persero) Angkasa Pura II Bandara SSK II, Baiquni menyebutkan, penerbangan belum ada pengaruh dengan kabut asap ini, semua beroperasi sesuai dengan jadwal. "Masih normal, semua lancar. Tidak ada penerbangan yang delay," kata Baiquni. Disebutkannya, jarak pandang (visibility) yang ditutup kabut asap di atas 5.000 meter. Artinya, masih aman untuk keselamatan penerbangan. "Baik untuk keberangkatan maupun kedatangan semua tidak ada masalah," jelasnya.

Dua Kapal Roro Nyaris Tabrakan


Sementara kabut asap tebal yang menyelimuti perairan Dumai hampir menyebabkan bertabrakannya dua kapal penyeberangan Roll on-Roll Off (Ro-Ro) KMP Tasik Gemilang rute Bengkalis-Sungai Pakning dengan KMP Swarna Putri di Dermaga Sungai Selari, Kecamatan Bukit Batu, Rabu (19/6) sekitar pukul 08.30 WIB. Insiden akibat tebalnya kabut asap dengan jarak pandang hanya 100 meter.

"Kemungkinan KMP Tasik Gemilang keluar dari dermaga tidak melihat KMP Swarna Putri akibat kabut asap yang tebal dengan jarak pandang beberapa ratus meter," ujar Bambang, salah seorang petugas Adpel Sungai Pakning yang bertugas di Pelabuhan Ro-Ro, Sungai Selari. Untuk menjaga keselamatan pelayaran, Adpel meminta nakhoda kapal ekstra hari-hati, terutama saat keluar dari dermaga. Karena perairan Sungai Pakning-Bengkalis merupakan perairan yang banyak dilewati kapal-kapan dari luar maupun lokal.

Sementara pantauan petugas UPT Polhut Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Dumai, sedikitnya ditemukan enam titik api di sejumlah kawasan. Jumlah itu mengalami penurunan sebab sebelumnya ditemui sebanyak 16 lokasi kebakaran lahan.

Di Tembilahan, satelit NOAA memantau 19 titik hot spot.


Menurut Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Kerusakan Lingkungan BLH Inhil, Ardi Yusuf, terjadi peningkatan jumlah titik panas meski belum terlalu signifikan. Namun diperkiarakan jumlah itu akan terus bertambah. "Kalau tanggal 17 Juni hot spot terdapat 17 titik, satu hari kemudian naik menjadi 19 titik," jelas Ardi, Rabu (19/6).

Sedangkan di Pekanbaru, dari pengamatan Riau Pos, api masih menyala di lahan yang terbakar sejak Ahad (16/6) hingga Rabu (19/6). Kondisi ini terlihat di Jalan Parit Indah RT 05/RW 01 Kelurahan Simpang Tiga Kecamatan Bukti Raya. Sementara lahan yang terbakar di belakang Mall SKA, Kelurahan Delima Kecamatan Tampan juga semakin meluas.

Kondisi tersebut selain sudah mengganggu aktivitas warga, juga menimbulkan kekhawatiran terhadap rumah warga yang hanya dibangun semi permanen. "Kami tidak bisa tidur nyenyak lagi di malam hari. Sebab kami sangat khawatir apabila kebakaran lahan tiba-tiba menjangkau rumah kami di malam hari," ujar Indra (36), warga Jalan Parit Indah RT 05/RW 01 Kelurahan Simpang Tiga Kecamatan Bukti Raya.

Di Jalan Labersa (belakang MTQ) kebakaran lahan masih berlangsung hingga kemarin. Bahkan lahan kosong yang sengaja dibakar tersebut terus meluas. Setidaknya ada beberapa titik yang dibakar di daerah tersebut. Asap tebal bercampur partikel debu masih terasa menyelimuti daerah itu, bahkan asap semakin menyebar terbawa angin hingga di Jalan Sudirman dan Purna MTQ.

Pemprov Kaji Hujan Buatan


Pemprov Riau juga melakukan monitoring beberapa kabupaten/kota yang dilanda kabut asap terutama titik panas yang diterpantau satelit NOAA. "Ini belum masuk ke dalam zona merah atau berbahaya. Makanya kita terus melakukan pencegahan lewat Badan Penanggulangan Provinsi bersama kabupaten/kota," kata Wakil Gubernur Riau HR Mambang Mit di Simpang Lago, kemarin.

Menurut dia, selain monitoring, pihaknya juga menerima laporan dari Badan Penanggulangan Bencana kabupaten/kota terhadap musibah kabut asap tersebut. "Jika perusahaan melakukan pembakaran, akan dilakukan tindakan tegas," kata Mambang. Selain itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau masih mengkaji perlu tidaknya dilakukan hujan buatan. "Kalau memang perlu dilakukan, maka akan kita buat hujan buatan. Sekarang masih dikaji terlebih dahulu," tambahnya.

Senada, Bupati Siak Drs H Syamsuar MSi mengajak masyarakat Salat Istisqa (salat minta hujan). Ini dilakukan agar hujan bisa turun dan kabut asap bisa hilang. Kabut asap dalam beberapa hari ini melanda Siak. Bahkan Pemkab sendiri melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah telah melakukan tindakan pencegahan. "Kejadian ini tak bisa kita hindari, namun upaya pencegahan terus dilakukan," ujar dia.

Wali Kota (Wako) Pekanbaru H Firdaus MT menyatakan prihatin dengan kabut asap menyelimuti Pekanbaru. "Asap ini sudah sangat mengganggu sekali. Untuk bernafas terasa kering di tenggorokan. Berhati-hatilah membakar sampah dan jangan membakar lahan," ungkap Firdaus. (KRP)

Bengkalis Pos adalah blog berita kutipan dari berbagai sumber, dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain. Jika ada salah silahkan beri kritikan, Anda juga diperbolehkan untuk berkomentar yang tentunya tidak menyinggung SARA.

Bagaimana Pendapat Anda?
 
Copyright © 2015. Bengkalis Pos - All Rights Reserved | Template By Maskolis | Modifikasi By TutorNesia | Proudly powered by Blogger