Advertise

Habitat Owa Jawa Makin Terdesak, Bagaimana Nantinya?

Bengkalis Pos
Bengkalis Pos
~ Owa jawa (Hylobates moloch) menjadi primata dengan ancaman kepunahan tertinggi di Pulau Jawa. Saat ini hanya tersisa 2.000- 4.000 individu hidup liar yang tersebar di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Jumlah itu sangat kecil jika dibandingkan puluhan ribu individu pada dua dekade lalu.

”Dari total jumlah owa jawa yang tersisa, sekitar 50 persen di antaranya rentan punah akibat terdesak alih fungsi hutan dan terancam aktivitas jual beli,” kata Direktur Utama Perum Perhutani Bambang Sukmananto.

Manajer Program Javan Gibbon Center (organisasi peduli owa jawa) Anton Ario mengatakan, Selasa (18/6), semua pihak harus berperan serta menyelamatkan owa jawa dari ancaman kepunahan.

Sabtu pekan lalu, sepasang owa jawa, Kiki (13) dan Sadewa (13), dilepasliarkan di Hutan Lindung Malabar, Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, yang dikelola Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten.

Bambang mengatakan, perlindungan satwa memegang peran penting dalam melestarikan hutan. Ia mencontohkan peran penting Gunung Puntang sebagai kawasan penyedia air bersih bagi masyarakat Bandung.

”Menurut rencana, masih akan dilepasliarkan lagi tiga pasang owa jawa tahun 2013. Semakin banyak owa jawa yang bisa dilepasliarkan, akan menjadi sinyal positif mencegah kepunahan,” ujarnya.

Strategi tepat

Anton Ario mengatakan, keterlibatan peran pemerintah, dunia usaha, dan aktivis organisasi nonpemerintah sangat efektif dalam mencari strategi dan solusi tepat menyelamatkan satwa dilindungi.

Peran serta Perhutani, menurut Anton, bisa menjadi contoh baik. Mengelola hutan seluas 2,4 juta hektar di Pulau Jawa dan Pulau Madura, Perhutani mau menyediakan lahan seluas 1.236,5 hektar di Gunung Puntang di Jawa Barat bagi owa jawa. Dengan ketersediaan pakan hingga 50 jenis, jaminan pasokan air, dan daya jelajah yang cukup, kawasan Gunung Puntang cukup ideal bagi habitat owa jawa.

”Semoga hal ini menjadi inspirasi penyelamatan yang sama terhadap owa jawa atau satwa dilindungi lainnya,” kata Anton.

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengatakan, owa jawa merupakan satu dari 14 spesies prioritas yang harus ditingkatkan populasinya sebesar 3 persen hingga tahun 2014. Saat ini, populasi owa jawa tidak lebih dari 4.000 individu.

Zulkifli yakin target itu bisa tercapai. Alasannya, dukungan dari berbagai kalangan masyarakat terus diberikan. Ia berharap hal itu bisa menjamin keanekaragaman hayati di Indonesia.

”Prinsipnya, hidup manusia dan kondisi alam di sekitarnya sangat bergantung pada keberadaan satwa. Tanpa kehidupan satwa dan lingkungan yang baik, manusia akan kesulitan menuju hidup sejahtera,” ujar Zulkifli. (RIANITA)
Bengkalis Pos
Bengkalis Pos
~ Owa jawa (Hylobates moloch) menjadi primata dengan ancaman kepunahan tertinggi di Pulau Jawa. Saat ini hanya tersisa 2.000- 4.000 individu hidup liar yang tersebar di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Jumlah itu sangat kecil jika dibandingkan puluhan ribu individu pada dua dekade lalu.

”Dari total jumlah owa jawa yang tersisa, sekitar 50 persen di antaranya rentan punah akibat terdesak alih fungsi hutan dan terancam aktivitas jual beli,” kata Direktur Utama Perum Perhutani Bambang Sukmananto.

Manajer Program Javan Gibbon Center (organisasi peduli owa jawa) Anton Ario mengatakan, Selasa (18/6), semua pihak harus berperan serta menyelamatkan owa jawa dari ancaman kepunahan.

Sabtu pekan lalu, sepasang owa jawa, Kiki (13) dan Sadewa (13), dilepasliarkan di Hutan Lindung Malabar, Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, yang dikelola Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten.

Bambang mengatakan, perlindungan satwa memegang peran penting dalam melestarikan hutan. Ia mencontohkan peran penting Gunung Puntang sebagai kawasan penyedia air bersih bagi masyarakat Bandung.

”Menurut rencana, masih akan dilepasliarkan lagi tiga pasang owa jawa tahun 2013. Semakin banyak owa jawa yang bisa dilepasliarkan, akan menjadi sinyal positif mencegah kepunahan,” ujarnya.

Strategi tepat

Anton Ario mengatakan, keterlibatan peran pemerintah, dunia usaha, dan aktivis organisasi nonpemerintah sangat efektif dalam mencari strategi dan solusi tepat menyelamatkan satwa dilindungi.

Peran serta Perhutani, menurut Anton, bisa menjadi contoh baik. Mengelola hutan seluas 2,4 juta hektar di Pulau Jawa dan Pulau Madura, Perhutani mau menyediakan lahan seluas 1.236,5 hektar di Gunung Puntang di Jawa Barat bagi owa jawa. Dengan ketersediaan pakan hingga 50 jenis, jaminan pasokan air, dan daya jelajah yang cukup, kawasan Gunung Puntang cukup ideal bagi habitat owa jawa.

”Semoga hal ini menjadi inspirasi penyelamatan yang sama terhadap owa jawa atau satwa dilindungi lainnya,” kata Anton.

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengatakan, owa jawa merupakan satu dari 14 spesies prioritas yang harus ditingkatkan populasinya sebesar 3 persen hingga tahun 2014. Saat ini, populasi owa jawa tidak lebih dari 4.000 individu.

Zulkifli yakin target itu bisa tercapai. Alasannya, dukungan dari berbagai kalangan masyarakat terus diberikan. Ia berharap hal itu bisa menjamin keanekaragaman hayati di Indonesia.

”Prinsipnya, hidup manusia dan kondisi alam di sekitarnya sangat bergantung pada keberadaan satwa. Tanpa kehidupan satwa dan lingkungan yang baik, manusia akan kesulitan menuju hidup sejahtera,” ujar Zulkifli. (RIANITA)

Bengkalis Pos adalah blog berita kutipan dari berbagai sumber, dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain. Jika ada salah silahkan beri kritikan, Anda juga diperbolehkan untuk berkomentar yang tentunya tidak menyinggung SARA.

Bagaimana Pendapat Anda?
 
Copyright © 2015. Bengkalis Pos - All Rights Reserved | Template By Maskolis | Modifikasi By TutorNesia | Proudly powered by Blogger