Advertise

Pengamat: Aksi Saling Sikut Jadi Kultur Politik Indonesia

Bengkalis Pos
Bengkalis Pos
~ Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima) Ray Rangkuti mengatakan, kultur politik di Indonesia saat ini memang kerap dengan aksi sikut-menyikut. Oleh karena itu, tahapan penampungan keluhan masyarakat atas daftar caleg sementara (DCS) yang dibuka Komisi Pemilihan Umum (KPU) diperkirakan berpeluang untuk menjatuhkan kandidat caleg tertentu.

"Kultur politik kita ini, bila didorong ke depan tapi di belakang, orang main sikut-sikutan," ujar Ray dalam diskusi di Jakarta, Minggu (23/6/2013).

Menurut Ray, para caleg ini bisa saja mencari kelemahan orang lain sebanyak mungkin untuk menunjukkan bahwa dirinya bersih. Hal ini dilakukan untuk menjatuhkan citra lawan yang maju sebagai caleg.

"Jadi nanti akan banyak praktik korupsi. Bahkan bisa terjadi antarcaleg di dapil yang sama. Yang harus kita pahami, kultur perang antarcaleg memang seperti ini," kata Ray.

Sebelumnya, Komisioner KPU Hadar Nafis Gumay mengaku banyak menerima laporan terkait kandidat caleg yang masuk DCS yang berasal dari pengurus parpol. Namun, ia tidak menyebutkan internal partai mana saja yang melaporkan para caleg yang diduga bermasalah.

Menurut Hadar, laporan dari internal parpol ini menunjukkan fenomena perseteruan antarinternal dan antarpartai. Laporan paling banyak menyoal para caleg yang masih menjabat posisi tertentu seperti pegawai negeri sipil (PNS) dan kepala desa.

"Ada juga persoalan etika dan moral. Dia suka marah-marah di lingkungannya, pernah merobohkan gapura. Bahkan ada yang mengatakan caleg ini tidak pantas karena model panas," ucap Hadar. (LEO/LI)

Sumber: Kompas
Bengkalis Pos
Bengkalis Pos
~ Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima) Ray Rangkuti mengatakan, kultur politik di Indonesia saat ini memang kerap dengan aksi sikut-menyikut. Oleh karena itu, tahapan penampungan keluhan masyarakat atas daftar caleg sementara (DCS) yang dibuka Komisi Pemilihan Umum (KPU) diperkirakan berpeluang untuk menjatuhkan kandidat caleg tertentu.

"Kultur politik kita ini, bila didorong ke depan tapi di belakang, orang main sikut-sikutan," ujar Ray dalam diskusi di Jakarta, Minggu (23/6/2013).

Menurut Ray, para caleg ini bisa saja mencari kelemahan orang lain sebanyak mungkin untuk menunjukkan bahwa dirinya bersih. Hal ini dilakukan untuk menjatuhkan citra lawan yang maju sebagai caleg.

"Jadi nanti akan banyak praktik korupsi. Bahkan bisa terjadi antarcaleg di dapil yang sama. Yang harus kita pahami, kultur perang antarcaleg memang seperti ini," kata Ray.

Sebelumnya, Komisioner KPU Hadar Nafis Gumay mengaku banyak menerima laporan terkait kandidat caleg yang masuk DCS yang berasal dari pengurus parpol. Namun, ia tidak menyebutkan internal partai mana saja yang melaporkan para caleg yang diduga bermasalah.

Menurut Hadar, laporan dari internal parpol ini menunjukkan fenomena perseteruan antarinternal dan antarpartai. Laporan paling banyak menyoal para caleg yang masih menjabat posisi tertentu seperti pegawai negeri sipil (PNS) dan kepala desa.

"Ada juga persoalan etika dan moral. Dia suka marah-marah di lingkungannya, pernah merobohkan gapura. Bahkan ada yang mengatakan caleg ini tidak pantas karena model panas," ucap Hadar. (LEO/LI)

Sumber: Kompas

Bengkalis Pos adalah blog berita kutipan dari berbagai sumber, dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain. Jika ada salah silahkan beri kritikan, Anda juga diperbolehkan untuk berkomentar yang tentunya tidak menyinggung SARA.

Bagaimana Pendapat Anda?
 
Copyright © 2015. Bengkalis Pos - All Rights Reserved | Template By Maskolis | Modifikasi By TutorNesia | Proudly powered by Blogger