Advertise

Usai Operasi Payudara, Waria Ini Menjadi Korban Diskriminasi

Bengkalis Pos
Bengkalis Pos
~ Seorang waria Singapura mengeluhkan diskriminasi sejak dia menjalani operasi penanaman payudara buatan ke tubuhnya. Kurt Tay, seorang petugas keamanan, mengecam sejumlah lembaga yang melarang keikutsertaan dirinya dalam sejumlah ajang.

Tay memutuskan untuk menyebar petisi yang meminta warga Singapura menerima waria berpayudara. Melalui akun Facebook-nya, Tay menceritakan diskriminasi yang dialaminya.

Dia bermaksud menghadiri acara karaoke kaum lajang pada Minggu (23/6/2013), tetapi dia dilarang masuk dengan alasan para tamu perempuan yang hadir merasa risih dan keberatan. Bahkan lembaga pemerintah juga ikut mengeluhkan kehadirannya dalam acara tersebut.

Aplikasinya untuk ikut serta dalam acara perjodohan yang diorganisasi Social Development Network (SDN) juga ditolak. SDN adalah lembaga yang bekerja sama dengan masyarakat untuk membantu pria atau wanita lajang mendapatkan pasangannya.

“Saya tidak mengerti kenapa mereka memperlakukan saya berbeda, saya single perlu pendamping hidup. Saya bukan gay, banci, transjender, kenapa payudara saya dipersoalkan?” tulisnya berapi-api. Bahkan, Tay menuliskan, sejumlah wanita lebih memilih pria berpayudara dibanding pria berdada rata.

Dia menilai perlakukan masyarakat ini sebagai bentuk diskriminasi yang tidak dapat ditoleransi. Keputusannya untuk melakukan operasi penanaman payudara berukuran C-cup di Bangkok beberapa bulan lalu menuai kontroversi di Singapura.

Untuk operasi itu, Tay menghabiskan sekitar 4.100 dollar Singapura atau sekitar Rp 32 juta. Bahkan, Tay berencana kembali ke Bangkok, meningkatkan ukuran payudaranya menjadi G-Cup.

Sejumlah dokter dan psikolog yang dimintai komentarnya menilai Tay akan menyesali keputusannya ini dalam beberapa tahun ke depan. (LEO/LI)

Sumber: AsiaOne
Bengkalis Pos
Bengkalis Pos
~ Seorang waria Singapura mengeluhkan diskriminasi sejak dia menjalani operasi penanaman payudara buatan ke tubuhnya. Kurt Tay, seorang petugas keamanan, mengecam sejumlah lembaga yang melarang keikutsertaan dirinya dalam sejumlah ajang.

Tay memutuskan untuk menyebar petisi yang meminta warga Singapura menerima waria berpayudara. Melalui akun Facebook-nya, Tay menceritakan diskriminasi yang dialaminya.

Dia bermaksud menghadiri acara karaoke kaum lajang pada Minggu (23/6/2013), tetapi dia dilarang masuk dengan alasan para tamu perempuan yang hadir merasa risih dan keberatan. Bahkan lembaga pemerintah juga ikut mengeluhkan kehadirannya dalam acara tersebut.

Aplikasinya untuk ikut serta dalam acara perjodohan yang diorganisasi Social Development Network (SDN) juga ditolak. SDN adalah lembaga yang bekerja sama dengan masyarakat untuk membantu pria atau wanita lajang mendapatkan pasangannya.

“Saya tidak mengerti kenapa mereka memperlakukan saya berbeda, saya single perlu pendamping hidup. Saya bukan gay, banci, transjender, kenapa payudara saya dipersoalkan?” tulisnya berapi-api. Bahkan, Tay menuliskan, sejumlah wanita lebih memilih pria berpayudara dibanding pria berdada rata.

Dia menilai perlakukan masyarakat ini sebagai bentuk diskriminasi yang tidak dapat ditoleransi. Keputusannya untuk melakukan operasi penanaman payudara berukuran C-cup di Bangkok beberapa bulan lalu menuai kontroversi di Singapura.

Untuk operasi itu, Tay menghabiskan sekitar 4.100 dollar Singapura atau sekitar Rp 32 juta. Bahkan, Tay berencana kembali ke Bangkok, meningkatkan ukuran payudaranya menjadi G-Cup.

Sejumlah dokter dan psikolog yang dimintai komentarnya menilai Tay akan menyesali keputusannya ini dalam beberapa tahun ke depan. (LEO/LI)

Sumber: AsiaOne

Bengkalis Pos adalah blog berita kutipan dari berbagai sumber, dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain. Jika ada salah silahkan beri kritikan, Anda juga diperbolehkan untuk berkomentar yang tentunya tidak menyinggung SARA.

Bagaimana Pendapat Anda?
 
Copyright © 2015. Bengkalis Pos - All Rights Reserved | Template By Maskolis | Modifikasi By TutorNesia | Proudly powered by Blogger